Kiran’s True Love
By :annisyabubbles
PART 2
“i meet an angel in my heaven,I really need
fix hers wings
because a devil broke hers”
-Rafan-
Dikamarnya, Vijay tersenyum
puas, Kiran berhasil dia ajak ke tempat futsalnya, daripada melihat Kiran itu
uring-uringan seharian gara-gara Evan brengsek ,mending ngenalin sama temen-temen
gue. Gumam Vijay puas.
Vijay mengetahui sesuatu tentang Evan yang
belum mau di kasih tahu ke Kiran. Vijay belum siap melihat adiknya yang seperti
batu karang, rubuh karena cowok berengsek macam Evan. Vijay langsung beranjak
dari rebahannya dan menyiapkan alat-alat untuk futsal, lapangan sudah di pesan
Andrew, sohibnya, lapangan VVIP yang cozy banget, Semoga rencana gue berhasil,
Amien!.
“Ran woy Kiran! Cepettan gue di
tungguin anak-anak nih” teriak Vijay dari luar kamar Kiran. Kiran yang baru saja
memakai lipblam cepat cepat mengoleskan ke bibir merahnya dan memasukkan
ponsel-ponselnya dan dompet ke tas hitam berumbai pendek .
“Gilaaa, dandan aja lama banget,
kayak mau ke pesta aja lo” kata Vijay yang ngeliatin Kiran dari bawah ke tas,
hmm karena ceritanya Kiran mau tebar pesona ya malam ini dia pake crop tee
cream bergambar tengkorak dengan vest jeans ombre dan celana jeans panjang
dengan sepatu keds cream.
“idih apaan sih yuk jalan” Kiran
turun duluan, Vijay tersenyum geli, dia tahu adiknya akan merespon penuh ajakan
ini, kan lumayan kenal sama cowok-cowok ganteng plus pinter di lapangan futsal.
“ma, Kiran ikut Vijay ke tempat
futsal” kata Kiran sambil mengambil sepotong daging panggang dari meja makan,
mamanya Kiran baru saja mau makan.
“astaga Kiran kamu tuh
perempuan, makan sambil duduk sini sini” mama
memundurkan kursi kayu di sebelah kanannya. Kiran langsung duduk sambil menunggu Vijay.
“kamu mau kemana Ran?” tanya
mama sambil memotong daging menjadi
potongan kecil-kecil. Belum sempat Kiran menjawab, Vijay udah gabung sama
mereka.
“biasa ma, si Kiran mau CGB sama
anak-anak futsal” jawab Vijay asal, mama hanya tersenyum melihat anak sulungnya
itu.
“hah? Apaan tuh CPB ?” Vijay
menyeringai geli “hish emang dasar ndeso lo, CPB itu Cari Pacar Baru, katanya
update” kata Vijay mengejek, Kiran hanya
bengong enggak banget deh, gumamnya dalam hati.
“waduh waduh udah pada rapi mau
kemana nih?” tiba-tiba aja seorang laki-laki berumur empat puluhan muncul dari
arah luar ruang makan. Kiran is surprising, then Vijay too
“PAPA!!!” Kiran langsung memeluk
erat ayahnya yang sempat limbung karena saking eratnya pelukan sang putri, papa
hanya tersenyum senang. Vijay juga begitu tapi enggak se heboh Kiran.
“waduh udah dong, papa enggak
bisa napas nih”
Sontak saja Vijay dan Kiran melepas
pelukan ayahnya and let him enjoy the dinner with his wife. Mama hanya
tersenyum senang, sebenarnya ayah Kiran di jawadwalkan masih tetap stay di Spore
selama 2bulan lebih, dan surprise beliau sudah tiba di Indonesia selamat.
Begitulah tuntutan perkerjaannya, yang mengharuskan beliau keluar kota
berminggu-minggu, bahkan bisa saja ke luar negeri berbulan-bulan. He’s an architect.
“hey, ayo pada makan malem dulu,
mama udah masak lho” kata papa yang baru saja melahap sesuap nasi dengan sayur
sup jagung. Kiran dan Vijay menggeleng bersamaan.
“kita mau pergi pa, nemenin
Vijay futsal” kata Kiran
“iya bener , sekalian si Kiran
nyari pacar baru” Kiran langsung memelototi kakaknya. Papanya hanya mengangkat
sebelah alis, mama hanya tersenyu,.
“gini lho, kata Vijay si Kiran
mau di kenalin sama temen-temen setim futsalnya” jelas mama hangat, papa hanya
mengangguk setuju sambil mengunyah.
“kamu udah break up sama Evan
Ran?” Kiran menggeleng pelan. “ yaudah papa bolehin deh pergi,tapi inget jangan
pulang malem-malem.” Kiran langsung pamit dan berjalan ke arah garasi,
begitupun Vijay.
“lo pake ini deh, gag bagus buat
perempuan udara malem” Vijay menyodorkan jaket hitam yang kebesaran saat Kiran
memakainya.
“em ada yang lebih besar lagi
enggak?” tanya Kiran sebal, Vijay hanya terkekeh geli.
“enggak ada, kalo lo
ngambil di atas pasti bakalan lama lagi gue nunggunya, cepet cepet, entar gue di
omelin sama leader gue nih” Vijay langsung menyalakan mesin motor, Kiran
langsung membonceng di belakangnya, sebelum memakai helm, Kiran menggelung
rambutnya agar tidak berantakan dan kusut, kan Kiran amu tebar-tebar pesona
(?).
Tak beberapa lama motor Vijay
meluncur keluar rumah dengan kecepatan cukup tinggi, karena jalanan cukup sepi.
Cumber Cafe-
at the same time.
“Aron, lo pesen apaan?” tanya
Kanya heboh, emang malam ini si Aron baru dapet bonus dari Nyokapnya, gara-gara
seminggu ini Aron selalu dapat nilai yang bagus, so dia mau bagi-bagi rezeki
sama pacar dan 2 sohibnya yang bisa gabung. Nah di Cumber Cafe tempat mereka
nongkrong kali ini, Cafe yang lagi booming banget, karena tenpatnya yang cozy
dan fucking cool.
“em , lasagna medium cheseenya
di tambahin ya mas.” kata Aron lalu di catat pelayan. Steve dan Brandon memesan
Nasi goreng daging, sedangkan Kanya yang lagi diet ketat cuman makan Salad buah
yang terkenal di Kafe ini.
“eh gimana si Kiran, kok enggak
ada kabar?” tanya Steve memulai pembicaraan. Kanya dan Aron hanya saling tatap.
“mungkin kali ini si Evan serius
kali ya? Saking senengnya si Kiran
enggak sempet ngabarin kita-kita” kata Brandon, beberapa menit kemudian Aron
yang masih memikirkan jawaban tentang bunga mawar hanya bengong sampai akhirnya
dia menceritakan rasa penasarannya tersebut. Steve dan Brandon hanya bingung. Hanya satu kata di
otak mereka saat mendengar cerita itu, selingkuh.
“tapi kalo emang mau di kasih ke
Kiran, seharusnya Kiran enggak ngumpettin bunganya dong, pasti di pegang terus
tuh bunga, secara lo tahu si Kiran sifatnya kalo dia lagi seneng enggak bisa di
simpen” Kanya dan Aron mengangguk, sedangkan steve yang emang dasarnya lemuoot
banget, cuman bengong mendengarkan penjelasan Brandon. Tapi dia tahu,
orang-orang di sekitarnya lagi membahas A couple yang udah ngetrend di sekolah.
Tiba-tiba pandangan Steve
terpaku pada sosok yang ada di dekat pintu masuk, jaket parasut hitam dengan
tanda cetang di bagian dada, berambuk spike dan muka maskulin. Steve langsung
terkejut.
“RAFAN?!” teriak Steve diikuti
pandangan heran Brandon, Brandon yang belum ngeh langsung mencolek pundak
Steve. “itu tuh, ada Rafan gila, makin ganteng aja dia!” kata Steve sambil
menunjuk seseorang yang menatapnya heran, sesaat kemudian Rafan tersenyum.
Brandon dan Steve tertawa geli
melihat Rafan, sohib mereka waktu mereka masih duduk di bangku SMP. Yang dulu
masih culun jaman smp, yang di sekolah terkenal bego banget soal pelajaran
Fisika, yang dulu rambutnya masih di belah pinggir, and now!!! He’s like a perfect
model.
“gila !!! lama enggak ketemu lo
berubah banyak banget Fan” kata Steve yang langsung memeluk sahabatnya itu.
Brandon tersenyum senang. Sedangkan Aron dan Kanya jadi yang gantian bengong,
mana tadi ada acara peluk-pelukkan lagi.
“iya dong masa gue mau kayak
dulu lagi, entar enggak ada cewek yang
demen sama gue” kata Rafan sambil ngedipin mata ke arah dua cewek cantik yang
lagi mandangin Rafan tanpa kedip. Brandon yang tahu maksud Rafan langsung
melirik ke arah Kanya dan Aron yang lagi salting.
“eh eh... punya gue tuh” kata
Brandon sambil melototin Rafan. Kanya langsung terkekeh geli melihat cowoknya
yang bisa bersifat kekanak-kanakan. Belum sempat Rafan mengeluarkan suaranya
sambil melirik Aron, Steve langsung duduk di sebelah Aron dan merangkul pundak
cewek itu.
“ini punya gue!” kata Steve
jutek, Rafan hanya terkekeh geli, “yah padahal mau gue ambil tuh, ternyata udah
pada ada yang punya” kata Rafan jenaka diikuti tatapan tajam Steve dan Brandon,
di kira barang apa?. Pikir mereka berdua.
“heh heh, lo main ambil aja, lu
kira gue barang apa?” kata Aron jengkel,
Rafan hanya terkekeh.
“hey just kidding dudes!, eh iya
pada mau satnight di sini? Udah pada pesen makanan?” kata Rafan duduk di bangku yang tersisa ,Steve
megangguk. “iye udah, emang kenapa? Mau gabung lo?”
“enggak lah gila apa jadi obat
nyamuk begini” steve terkekeh geli sambil melempar tusuk gigi yang ada di meja
“kunyu lo” kata Brandon sambil terkekeh.
“yaudah lu pesen sepuasnya deh”
kata Rafan sambil berdiri dari duduknya.
Steve langsung seneng banget, malam ini dia bisa makan gratis sepuasnya di
sini.
“wehh hebat lu Fan, lo bayarin
kita ?” kata Brandon senang, Rafan menggeleng.
“apa lo yang punya restoran ini,
hebat bener, cowok gede sukses lo Fan” kata Kanya semangat, Rafan terkekeh geli
sambil menggelengkan kepala.
“maksud gue lo pesen sepuasnya
aja, terus lo bayar sendiri deh hahaha” kata Rafan sambil tertawa. Keempat
makluk yang ditinggalkannya itu langsung mengumpat bersama.
“Rafan gila!!!”
“bego lo!”
“gue kira yang punya elo,
sialan!”
“ih Rafan jahil banget deh” nah
yang terakhir ini ngucappinnya beda banget, rada centil gitu, siapa lagi kalo
bukan Aron.
“dari dulu sampe sekarang emang
satu yang enggak beda, jahilnya itu lho astagfirullah” kata Steve gemas. Tiga puluh menit kemudian,
Aron dan Kanya berjalan ke arah kasir, mereka kaget banget waktu bill makanan
mereka sudah lunas. Dengan tampang bingung Kanya dan Aron berjalan ke meja
mereka.
“sukses bener deh tuh anak” kata
Brandon diikuti anggukan Steve. “yaudah yuk kita mau pulang atau begimana?”
kata Kanya sambil berjalan duluan.
“pulang aja deh udah malem, nongkrong di rumah gue aja, sekalian
nonton film” kata Aron sambil menyusul Kanya. Jadi Brandon dan Steve berada di
belakang sedang membicarakan sesuatu, sedangkan Kanya dan Aron memeperhetikan
kafe sambil memperhatikan kafe yang mulai penuh oleh pasangan-pasangan muda dan
beberapa kelompok orang.
Aron yang emang matanya sangat
jeli menangkap seseorang yang sedang duduk di sudut ruangan dekat dengan
jendela besar, seorang laki-laki berpostur sedang dengan perempuan sebaya dengan
dandanan yang sangat classy and make her so older.
Baru beberapa menit kemudian,
Aron tersentak kaget dan menarik Kanya untuk melihat dua orang di ujung sana.
Aron menarik tangan Kanya sampai posisi mereka tersembunyi di sekat pembatas
ruangan.
“Aduh Ron, sakit tau! Emang ada
apaan sih?” protes Kanya sambil mengusap pergelangan tangannya yang merah
karena di tarik Aron tadi.
“lu kecilin suara dikit dong,
entar si Evan tau!” kata Aron tertahan sedangkan matanya tetap mengawasi sosok
itu, Kanya langsung kaget.
“Evan? Bukannya si Evan lagi date sama Kiran?”
“aduh Kanya lo lihat deh, itu si
Evan sama si Nenek!” Kata Aron gemas, Kanya yang baru saja mendapati sosok Evan
sedang menggenggam tangan Era, ketua team cheers yang emang terkenal centil.
Ingin Kanya melabrak Evan dan Nenek itu.( Aron, Kanya dan Kiran memanggil Era
dengan panggilan Nenek, karena dandanannya membuat Era lebih tua dari umurnya)
“Ya elah, aku cariin kamu di
sini, Ayo hun balik.”kata Brandon yang membuat Kanya dan Aron kaget yang otomatis membuat Kanya mengurungkan
sifatnya. Dengan emosi yang sudah mencapai limit gara-gara melihat perlakuan
Evan tadi, Kanya menghembuskan nafas kesal dan berjalan duluan meninggalkan
cowoknya dan Aron di belakang.
“Kanya kenapa Ron?” kata Brandon
heran sambil berjalan menyusul Kanya. Aron jadi gagap jawabnya, dia enggak
berani bilang yang sebenernya, takut Brandon ngamuk gara-gara si brengsek itu.
“oh gue enggak tau tuh, entar
deh gue tanyaiin yaudah yuk ke mobil Steve udah nunggu di sana kan?” Aron menarik lengan Brandon cepat.
Dan untuk meyakinkan Aron menengok ke arah belakang, dan benar, Evan mencium punggung
tangan Era. Ya Ampun Evan gue bikin lo babak belur besok!. Aron dan kawan-kawan
langsung meninggalkan Cumber Cafe.
Mata Kiran terbinar-binar saat
melihat lapangan futsal , ok ralat, secara nyata. Kiran belum pernah kelapangan
bola maupun futsal dimanapun, karena tempat ini sungguh menjijikan karena bau
keringat laki-laki yang tercium enggak sedap karena selesai memainkan bola itu.
Ternyata enggak seburuk apa yang dia
bayangkan, baunya yang wangi karena pengharum ruangan, (hey, ini ruangan VVIP,
karena sudah malam Vijay cs memilih lapangan indoor). Kiran dan Vijay langsung
duduk di bangku semen di pinggir
lapangan yang sudah banyak dengan laki-laki bertubuh atletis dan... good
looking.
“hay my bro !” Vijay langsung
menyambut sapaan salam dari cowok bertubuh jakung yang mengenakan jaket hitam
yang jika di ingat sama dengan jaket yang sekarang udah menggantung di tangan
Kiran.
“hey, hey, hey siapa nih manis
bener” kata cowok itu diikuti tatapan para pemain lainnya yang sedang streching
di pinggir lapangan. Kiran yang merasa di liatin jadi salting dan hanya
tersenyum kaku.
“weh si Vijay, punya rejeki
kagak bagi-bagi” kata cowok sedikit
pelontos sambil menepuk-nepuk bagian pantatnya dan berjalan ke arah Kiran.
“Wili” kata cowok itu mengulurkan tangan kanannya, yang tadi EWWW.
“Kiran” kata Kiran sambil
mengulurkan tangan kirinya, Wili jadi
heran “gue kidal, ok gue ganti tangan aja” raut heran yang tadi tergambar di
wajah Wili menjadi wajah dengan mulut
membunyikan huruf o, yang seperti ikan koi, Wili keliatan bego.
Akhirnya Kiran bersalaman
seperti orang yang sedang memiliki hajat yang otomatis memolorkan waktu
permainan. Hari ini Vijay dan kawan-kawan
hanya melakukan pertandingan pemanasan, katanya ,supaya enggak terlalu kaku waktu
mau tanding sama SMA lain. Tak sempat punya waktu latihan yang intens, karena
mereka akan disubukkan dengan tryout dan ujian ini itu
, maka
setiap ada hari libur atau mereka pengen banget mereka bakal dateng ke lapangan
futsal yang oke punya.
Malam hari ini Kiran sudah
berhasil melupan masalahnya dengan kekasihnya Evan brengsek!. Kalo di pikir-pikir boleh juga anak-anak di
klub futsal di SMAnya, cowok basket lewat deh, tahu gitu dari dulu dia nemenin
Vijay latihan, daripada browsing menggunakan wifi sekolah yang berakhir ingin
membeli barang-barang yang terpampang nyata di Online shops. Seperti sekarang
Kiran sedang melihat sosmednya dan menjadi stalker di salah satu olshop
langganannya.
Terdengar suara napas terengah-engah
dari dekat pintu dan suara benda yang
sengaja di jatuhkan di dekatku, suaranya kenceng banget, cowok itu berambut spike dengan jaket kulit hitam
dengan logo brand ternama di bagian dada jaket itu.
“elo tuh Fan, gue kira enggak
dateng, molor banget datengnya!” teriak Mario dari tengah lapangan, yah karena
dia menjadi center di sini.
“hehe tadi ada little problem di
tempat kerjaan gue” katanya sambil melepas jaket lalu melempanya asal ke atas
tasnya. Bau nya parfum mahal keluaran terbaru, khas cowok banget. Selama melakukan pemanasan ringan Kiran
memperhatikannya dengan lekat, Kiran udah mengunci matanya menatap cowok itu
dan membuang kunci gemboknya jauh-jauh.
“eh, ada cewek nih, cewek siapa
nih?” teriak laki-laki itu sambil berteriak ke arah pemain yang tadi sudah
melanjutkan permainannya, karena berhenti mereka memutuskan untuk istirahat
sebentar.
“ ceweknya si Vijay” celetuk
Ronald, memang sih Vijay belum memberi tahu mereka semua kalo Kiran adeknya,
Kiran juga enggak minat ngasih tahu kalo dia adik Vijay.
“weh weh si Vijay suka sama
cewek juga ternyata, hai gue Rafan Atmaja” kata Rafan sambil mengulurkan tangan
kirinya, Kiran terkesiap dan memindahkan ponsel ke tangan kanan, lalu menjabat
tangan kiri Rafan. Rafan juga kidal.
“Kiran” Rafan tersenyum dan dari matanya terlihat,
Rafan memang orang yang sedikit urakan dan jenaka, dan matanya berwarna hitam
pekat dengan alis sempurna untuk ukuran laki-laki, ralat nyaris sempurna, di
dunia ini enggak ada yang sempurna kan?
“woy woy!!! Salimannya udah
woy!” tiba-tiba Ronald datang dengan muka jutek, sebenernya cemburu, sadar
dengan hal itu Kiran melepas genggaman tangan lalu salah tingkah, emang enggak
enak sih kalo menjadi makhluk dengan
komposisi x di dalam satu kelompok makhluk berkomposisi y. Tapi kalo emang lagi
good lucky sih ya kayak Kiran begitu.
“eh Fan, gantiin gue main
cepet!” kata Vijay sambil mengurut kakinya, Rafan tersenyum dan mengacungkan
kedua jempolnya ke atas. Sambil cengar-cengir Rafan menghada Kiran.
“hay my girl, look my skils!”
Rafan mengedipkan mata ke arah Kiran yang belum ngeh, tiba-tiba aja Vijay udah
duduk di sebelahnya, tetep ngurut kakinya.
“lo mau belajar jadi tukang
urut?” tanya Kiran sambil menyelidik kaki Vijay yang udah telanjang. Tanpa
sepatu dan kaus kaki maksudnya.
“enggak tuh,
jangan sotoy deh” kata Vijay sambil menoyor adeknya itu Kiran langsung
merapikan rambutnya.
“terus ngapain elo pake ngurut kaki lo?” Vijay meringis dan menyandarkan punggung ke
sandaran bangku semen.
“kram, tadi
gue lupa pemanasan hehe” Kiran mendengus kesal dan ikut menyandarkan
punggung ke sandaran kursi.
“Ran, menurut lo Rafan gimana,
waktu lo pertama kali ngeliat dia?” kata
Vijay mantab sambil melihat adiknya itu.
“hm, gue enggak tahu tapi dia
punya mata yang bener-bener gelap, gue suka itu” kata Kiran sambil menatap
Rafan yang sedang menggiring bola ke gawang Andi’ dan di akhiri dengan satu
poin.
“YEY!!!” teriak Kiran kegirangan
sampai sampai semua anak menengok kearahnya dan cekikikan sendiri, Vijay yang
dari tadi menahan tawa akhirnya meledak juga, Kiran yang di perlakukan seperti itu jelas maluuuu.
“hehe sorry ganggu konsentrasi
nih, sok di lanjut kan” tanya Kiran sambil duduk sok jaim. Vijay geli melihat
adiknya tadi, sepertinya Rafan tertarik dengan Kiran, harus gue bantu nih, kata
Vijay dalam hati. Di perhatikan tingkah
adiknya tersebut, dia sangat serius
memperhatikan gerakan Rafan, Vijay tersenyum lagi.
Kiran yang dari tadi merasa
kakaknya senyum-senyum sendiri merasa emang bener kakaknya gila, ASTAGA.
“kayak orang gila aja lo
senyum-senyum sendiri?” kata Kiran
heran.
“enggak kok, gue lagi memikirkan
rencana yang sangat lucu aja” kata Vijay, “Goshhh, Tuhan ampunilah kakak saya
yang udah rada miring” Kiran langsung mengusap wajahnya dengan kedua tangannya
bersamaan.
“eh, lo enggak usah urusin gue
deh, sana balik ngeliattin skillnya anak-anak tim gue, jempolah kan, apalagi
yang ehem... itu lhoo”
Kiran menyerngit bingung dan beberapa menit
kemudian di berubah garang, daripada ribut-ribut mending fokus ngeliatin
permainannya anak futsal. Masih terdengar suara cekikikan Vijay , dasar rese!.
Emang dari tadi mata Kiran
memperhatikan si kulit bundal bergelinding di rebutkan orang banyak, bagus
bener skill si Rafan.
“my girl i’ve good skills rite?
Yeah i’ve” kata Rafan pede saat selesai berlatih dan langsung aja di sorakin anak-anak lain termasuk Vijay,
Kiran hanya tersipu malu.
“apaan pake my girl, punyanya si Vijay juga” celetuk
Ronald jengkel, Rafan hanya menjulurkan lidahnya, seperti anak kecil.
“ye sekarang gue panggil Kiran
My Girl” kata Rafan pd, “sok deket banget lo” kata Vijay geli, Rafan terkekeh
geli sedangkan Kiran hanya tertawa geli.
“rumah lo dimana, mungkin
kalo gue kangen bisa langsung kesana,
tapi lo jangan bilang Vijay kalo gue main ke rumah lo, entar bisa abis gue, ok
my girl” kata Rafan sambil melirik Vijay
yang geleng-geleng kepala.
“tanpa gue bilang si Vijay pasti udah pasti tahu, elo
ngomongnya kayak speaker begitu” kata Kiran geli, Rafan tertawa . “btw gue
tinggal serumah sama si Vijay” Rafa langsung berhenti tertawa.
“e.. elo serumah bareng dia, goshhh” kata Wili
dengan muka kaget, untuk saat ini Vijay belum memberi tahu mereka kalau mereka
kakak adik, biar surprise katanya.
“gue sama Kiran sering sekamar
malahan, keren kan gue” terdengar suara menarik nafas dari semua orang di dalam
ruangan tersebut , “tapi itu dulu waktu gue sama Kiran masih kecil, ya wajar
lah kalo si Kiran tinggal serumah sama
gue, dia kan sodara gue” kata Vijay dan langsung di timpukin sama anak-anak,
Kiran hanya terkekeh geli.
“sialan lo Jay!”
“tahu gitu kan gue embat aja si
Kiran”
“ah elo, gue kira elo berbuat
yang melanggar agama Jay!”
Begitulah kira-kira umpatan yang
di terima Vijay.
“heh udah-udah kasihan kakak
ipar gue, jangan di timpukkin begitu
dong” kata Rafan sambil berdiri di depan Vijay , seperti perisai. Tak berapa
lama terdengar suara HUUU!!! Dari semua orang.
“Ngarep banget si Fan, Fan” kata
Markus heran .
Setelah 3 jam berlalu Kiran dan
Vijay memutuskan pulang terlebih dahulu karena sudah larut malam, saat tiba di
Parkiran terlihat sosok Rafan berlari menghampiri Kiran.
“My Girl, kasih nomor lo!” katanya sambil
terengah-engah, Kiran tersenyum dan menulis nomornya di ponsel Rafan yang
dilihat-lihat sama seperti ponselnya. Vijay yang memperhatikan hal tersebut
tersenyum kecil. Di sekolah Kiran termasuk cewek yang susah banget di minta
nomor telponnya, hanya orang-orang tertentu yang punya nomornya, emang
kedengeran belagu, tapi “gue butuh privasi untuk nomor telepon gue” katanya.
Vijay berpikir suatu saat nanti
mereka akan jadian, tapi hubungan mereka enggak akan mulus, banyak rintangan
yang menghadang. Vijay hanya berdoa semoga saja Kiran bisa jadian sama sohibnya
itu. Rafan Atmaja.
Jadi misi pertama berhasil! Sorak
Vijay dalam hati, hal itu terlihat jelas saat mereka tiba di rumah, Vijay
mengikuti Kiran yang memasukki kamar dengar wajah sumringah dan senyum-senyum
sendiri.
TBC-
hai sorry kalo postingannya telat plus gaje, ini berusaha keras buat ngebuat part 2 T-T
yuk jangan lupa komennya ya, di tunggu
annisya berlianti II
@annisyab_
saran dan kritik di terima dengan terbuka aye :)
Njir gue sekarang sama Rafan? Padahal kan gue maunya sama *a*ha*. Bagus, next yess!
BalasHapushaha thanks buddy ! haha ngarep banget lo sif ok yes !!!
BalasHapuspaling benci gua pas lg asik".a baca ad yg ganggu -,- *LirikTBC -,-
BalasHapuscepetan update!
wakakaka iya ok ! <'-'
BalasHapus