Selasa, 24 Juni 2014

Kiran’s True Love

part 3
by : annisyabubbles

“sometimes we have to choose an option,
sometimes we should be sincere
 that we should leave it
-KIRAN

Seminggu yang lalu...
            Tepat pukul 2 pagi, terdengar ketukan tak beraturan  dari luar rumah sederhana dengan gaya minimalis. Seorang laki-laki yang baru saja tidur langsung bangun dan berjalan linglung ke arah depan.
            “gu...gue mau tidur di rumah lo please please” kata seorang laki-laki dengan gemetaran, belum juga ngasih salam atau gimana udah minta numpang-numpang aja, batin laki-laki yang baru membukakan pintu. Baju yang compang-camping dan ughhh bau alkohol tercium tajam “Win please Win!”
            Darwin dengan muka yang sengak –tapi masih sedikit menutup mata gara-gara ngantuk - sedikit menyingkir dari pintu mempersilahkan Evan yang enggak lain sepupunya dari nyokapnya. Evanpun langsung duduk di kursi yang tadi buat tidur Darwin.
            “tante Evra sama Om Leo lagi enggak di Indo kan? Please lo jangan bilang sama mereka tentang kondisi gue, jangan bilang mereka ya please please, terutama sama bonyok gue!” kata Evan dengan tergesa-gesa dengan mata yang merah.
            “lo habis ngedrugs Van?!” kata Darwin langsung melek, tatapannya sangat tajam dan langsung membuat Evan kaget.
            “enggak, enggak gue enggak habis ngedrugs !  jangan asal tuduh lo !” kata Evan dengan kondisi yang sama, Darwin mulai  menyelidiki tiap jengkal muka sepupunya itu, perubahan itu sedikit terlihat di mata Evan yang memancarkan sinar yang cemas dan tatapan seperti orang teler.
             Dengan pasrah Darwin mepersilahkan Evan tidur di kamarnya dan dirinya sendiri memilih tidur di sofa. Apapun yang  terjadi orang dewasa enggak boleh  tahu soal ini, bukan tidak boleh tahu pasti ada waktu yang tepat karena bantuan Tuhan yang selalu  melindungi setiap umatnya. Setiap jarum detik bergerak bertambah pula beban di mata Rafan dan mengharuskan laki-laki tersebut terlelap dan memimpikan sesosok yang akhir-akhir ini membayangi mimpinya.
***
            Sekarang...
            “KIRAN!!!” teriak kedua sahabatnya itu tepat di kedua telinganya, Aron di sebelah  kiri  dan Kanya di sebelah kanan, komplit sudah kedua telinganya rusak. Kiran langsung tersentak dan menutup kedua telinganya karena  mendengar kor kedua sohibnya itu.
            “ihhh kalo manggil jangan di telinga gue dong! Entar gue budek!” kata Kiran jengkel, saat di melirik kedua sahabatnya tersebut, mereka sedang melongo dongkol. Karena sebelum mereka berdua teriak Kiran emang udah budek , di panggil berkali-kali tetep enggak ngerespon,  tuh anak kelewat daydreaming. Saat Aron akan bertanya Kiran sudah menjawab...
            “gue tahu yang tadi lo berdua omongin,  lo berdua mau ngajak gue buat ke puncak waktu kelas 12 us kan? Terus kita nginep di tempat temennya Brandon sama Steve, terus lo  berdua mau beli  parfum orinya viva la juice, ada yang gue lewatin???”
            Jelas Kiran panjang lebar kali tinggi, dikeluarkannya napas berat yang terdengar menyakitkan di kuping kedua sahabatnya tersebut. Mereka tahu kenapa napas berat itu terjadi, tapi Kiran korban penipuan buaya darat bacotnya aja yang gede, Aron dan Kanya tahu apa yang membuat cowok BERENGSEK itu membatalkan janjinya. Tak mau menambah beban Karin lagi mereka memilih diam dan menikmati nasi uduk yang tadi sempat tertunda gara-gara meneriaki Karin.
           
            Di tempat yang berbeda waktu yang bersamaan...
            Sesosok laki-laki yang dulu bertubuh kekar kini menjadi sangat kurus, beberapa zat yang ilegal telah menggerogoti bagian dalam organ tubuh laki-laki itu perlahan-lahan, tidak ada yang tahu bahkan orang terdekatnya saja tidak tahu, orang yang sangat dia cintai  dan sekarang cinta itu perlahan pudar karena tidak ingin dirinya menyakiti perempuan tersebut.
            Pada saat ini tubuhnya minta di cekoki zat tersebut, dengan mengendap endap ke gudang belakang yang tersembunyi. Dengan perlahan tangannya mengangkat kayu-kayu yang di tata sedemikian  rupa agar tidak di curigai oleh oknum-oknum yang tidak di diinginkan.
            “wah tumben bosss!!!”kata seorang laki-laki yang tubuhnya tak jauh beda dari dia langsung melemparkan bungkusan kecil, laki-laki tersebut langsung memasukkannya ke dalam kantong dan mengambil sebatang rokok mentol yang ditawarkan temannya yang lain.
            Dalam sekejap asap memenuhi kedua paru-paru laki-laki tersebut, hawa dingin memenuhi hidung dan mulutnya yang baru saja mengeluarkan asap. Semua pikiran yang tadi membayanginya mendadak menguap berbarengan  dengan keluarnya asap-asap yang mengepul tinggi itu.
            “gue denger kemaren lo batalin janji lagi sama cewek  lo itu Van?” kata Bonar yang sekarang duduk di sebelahnya sambil makan kacang atom. Evan hanya mendengus geli melihat temannya itu, itu cara Bonar menghilangkan aroma-aroma rokok. Evan hanya mengangguk dan menghembuskan asap rokok.
            “udah jalan sama si Kiran ditambah si Era ckckck maruk banget lo” Evan langsung menghindar saat Bonar melempar kacang atom ke arahnya.
            “Ye mending dia punya dua, boro-boro 5 satu aja lo putus nyambung” kata Tony yang keliatan paling waras, si Tony emang baby banget, pernah sekali dia mencoba menghisap rokok dia batuk-batuk sampai 5 hari.
            “Ahh elo masih disini rupanya, gue kira udah balik” kata Evan sambil melempar puntung rokok yang sudah habis lalu menginjaknya hingga hancur. Pernah sekali Kiran menasehati Evan – Kiran tahu Evan perokok tapi, Evan mengaku sudah berhenti ke Kiran- Satu batang rokok itu sama aja korupsi.
            Menurut Kiran sebagian dari uang kita itu juga hak dari orang lain, uang yang Evan beli buat  rokok itu akhirnya akan jadi sampah yang menyebabkan banjir di Jakarta, kalau si Evan mau nurutin kata-kata si Kiran pasti uang itu udah berguna banget buat orang yang membutuhkan.
            Evan hanya tersenyum saat mengingat momen itu, momen dimana Kiran sangat memperhatikan dirinya dan hal itu selalu membuat bibirnya melengkung ke bawah sempurna. Bonar yang melihat sohibnya senyum-senyum sendiri hanya menggeleng dan segera bangkit karena lima belas menit lagi bel masuk berbunyi, begitu juga dengan yang lain.
            Setelah menutup rapi tempat persembunyian mereka berjalan bering-iringin,seperti biasa Evan berada di barisan  paling depan sedangkan yang lain mengekor. Selama perjalan ke  kelas, banyak cewek cewek yang pada flirting ke mereka. Tapi mereka menganggap mereka angin lalu.
            “Van, Van si Kiran tuh”kata Bondan setengah berbisik, Evan langsung ngerapiin bajunya yang tadi berantakan.
            Kiran yang menyadari ada Evan dan gerombongannya langsung masang muka cuek, iyalah! Dia masih kesel sama Janji nge-date yang batal. “Hai sayang” tiba-tiba Evan mendekat ke Kiran dan merangkul lengan cewek itu. Kiran langsung menepis dan bersedekap.
            “Ki...Kiran kamu kenapa sih?” Kiran menatap Evan dingin.
            “Seharusnya gue yang tanya elo kenapa?!” bentak Kiran, Aron dan Kanya tersentak kaget, mereka langsung mendekat ke Kiran, inilah kebiasaan Kiran kalo udah jengkel banget sama Evan,  dia pake  elo-gue. “kenapa setiap ada janji sama gue elonya batalin terus, gue capek Van! Gue curiga nih jangan-jangan...”
            “Kiran kamu ngomong apasihh? Mana mungkin  aku punya selingkuhan” potong Evan, “ayolah Kiran, kemaren aku udah bilang kalo mama sama papa aku mendadak banget ngabarinnya” Evan mencoba menggenggam tangan Kiran, tapi Kiran langsung melengos pergi.
            “Kalo sampe lo nyakitin Kiran, lo akan berhadapan sama kami!” ancam Kanya sebelum pergi ke arah kelas. Evan mengumpat pelan.
            “ckckck... emang ribet ya jadi playboy super, mendingan gue dehhh, ganteng-ganteng gini gue setia” kata Bondan yang langsung di sambut dengan sorakan kecil dari rombongan itu.
            “yaudah pada balik sono ke kelas,emang ini sinetron apa sho sho...” kata Tony kepada murid murid yang baru pulang dari kantin.
            “sialan! Bisa remuk hati gue kalo gini”
            “Eitsss... remuk remuk gitu entar di ganti sama si Era”
            “tengil lo hahahaha” Evan berjalan ke kelasnya dan tanpa memikirkan Kiran lagi.
***
            SEMINGGU KEMUDIAN...           
            Seharusnya sore itu Kiran bisa nonton film sepuasnya -berhubung besok Jumat hari libur, sekolah memutuskan hari Sabtu juga libur- mulai dari yang romantis sampai yang horor horor gitu, ditemani satu botol  penuh susu coklat, seplastik keripik pedas, roti bakar coklat yang paling ajibbbb, nyalaiin pendingin ruangan tanpa ada gangguan apapun.
            Rencana itu hancur lebur saat Kanya dan Aron masuk ke kamarnya dan memaksanya untuk cepat mandi.
            “aduhhh emang kenapa sih gue suruh cepet-cepet males banget  deh” kata Kiran saat masuk ke kamar mandi, Kanya dan Aron cekikikan sambil menyiapkan baju buat Kiran. Alhasil sekarang Kiran duduk bersama sohibnya, setelah mereka memaksa Kiran memakai dress floral dan sepatu keds berwarna krem, sebenernya Kanya nyaranin Kiran pake heels yang warna emas tapi Kiran ngancem Kanya dengan cara menolak ikut hangs out ke acara apalah itu. Emang dasar si Kiran, susah banget deh kalo udah debat sama dia.
            “Kiran senyum dong!” Kinya langsung senyum terpaksa yang jatuhnya malah nyeremin dan kilatan cahaya dari kamera polaroid menangkap gambar Kinya dan Aron, tak beberapa lama, selembar kertas keluar dan menghasilkan foto mereka.
            “Ahh Kiran, lo senyum kek, disini gue udah cakep begini elonya jelek-jelekkin sih” keluh Aron sambil memandangi kertas foto itu.
            “Lo kenapa sih Ran seminggu ini badmood banget, untung aja nilai-nilai ulangan kemaren enggak jeblok! Kalo iya bakal gue goreng lo!” kata Kanya kayak emak-emak.
            “Ya iyalah hari ini gue badmood, eh bukan deh sore ini! Ini tuh sore yang mau gue lalui sambil nonton film, dan  tiba-tiba...”
            “Negara api menyerang” potong Kanya niruin kalimat film avatar “ahh Kiran please, you’ve watched it repeatedly, ini waktunya lo refreshing, mungkin aja kali ini lo dapet gebetan atau  gimana gitu” kata Kanya panjang lebar yang langsung di setujui oleh Aron.
            Ngomong-ngomong soal gebetan, Kiran  kepikiran temennya si Vijay yg waktu itu, aduhhh lupakan namanya, keluh Kiran dalam hati. Masa gitu aja lupa sih gueee... huh siapa sihhh, Afan? Refan? Ervan? Duhhh. Gerutu Kiran jengkel dalam hati.
            “Aduh..duh bentar ya gue mau ke toilet dulu” Kanya langsung ngacir ke toilet dan saat itu pula makanan pesanan mereka datang, dua piring lasagna dan sepiring nasi plus ayam teriyaki. Kiran yang udah lapar banget ditambah harus mengingat  nama teman Vijay itu langsung menyikat lasagnanya dan menambah sedikit saos di atas lasagnanya, begitupun Aron langsung makan ayam teriyakinya.
            Kanya yang baru aja keluar dari kamar mandi langsung berjalan ke arah laki-laki yang dari tadi mencuri perhatiannya, sepertinya orang itu familier. Saat berjalan mendekat, Kanya tersentak kaget saat laki-laki itu berbalik ke arahnya.
            “hai!” sapa Kanya antusias, cowok itu melambai ke arah Kanya dan  memeluk sekilas Kanya.
            “elo Kanya kan ya ?, enggak nyangka ketemu lagi disini” kata cowok itu sambil mempersilahkan duduk  Kanya.
            “iya, Brandon sama Steven lagi pergi sama anak-anak basket, jadi gue, Aron sama sahabat gue hang out kesini, biasa sahabat gue itu lagi ada masalah sama cowoknya yang bajingan tingkat dewa, kenapa gue bilang bajingan?” tanya Kanya gemas, cowok itu hanya mengangkat alisnya yang sedikit tebal, tanda tidak tahu.
            “karena gue sama Aron pernah mergokkin dia lagi selingkuh sama nenek sihir di kafe ini! Kebayang enggak sih kalo lo jadi gue, trus ngeliat pacar sahabat lo selingkuh sama nenek sihir yang genit, yang ewww banget, pengen gue tonjok tuh muka sampe biru-biru” Kanya langsung ngos-ngossan saat menceritakan itu. Seakan baru menyadari sesuatu Kanya langsung membekap mulutnya, yaampunnnn gue ngapain sih cerita sama dia, bego bego begooooo.
            “aduhh...emm...ehh sorry ya gue keceplosan, sorry sorry hehe, sifat bawaan gue dari kecil nih, kalo ngomong emang enggak bisa ngerem.” Pipi Kanya sedikit memerah
            “Nope, kalo sama gue biasa aja kali hehe” kata cowok itu ramah “eh iya lo pindah ke VIP aja” kata cowok itu, kafe ini memang di lengkapi dengan  tempat VIP yang berada di atas.
            “tapi elo yang bayar! jangan kayak kemaren dong”  cowok itu terkekeh geli dan mengacungkan kedua jempolnya.
            “eh iya Nya gue ke atas dulu ya mau live nihh, langsung aja ke atas, bilang lo temen gue.”  Cowok itu langsung ke atas sambil bawa gitar.
            Sementara itu piring di depan dua cewek itu langsung ludes, Kiran yang biasanya makan lasagna enggak pernah bersih, sekarang dia makan sampai piringnya kinclong, sementara di piring Aron hanya tersisa sayuran, karena dia lagi males makan sayur.
            “Gilaa!!! Bisa tidur nyenyak gue entar malem” kata Kiran sambil menyeruput air mineral dinginnya “Eh Ron ini kafe apaan sih,gue mau resmiin ini  jadi tempat nongkring kita ah”
            “yaelah Ran, lo enggak baca tulisan di depan kafe apa?ini tuh Cumber Cafe, kalo enggak salah ini punyanya temennya si Steven sama si Brandon gitu,bentar-bentar ini si Kanya telpon gue” Aron langsung meload speaker hpnya
            “Ron, lo pindah meja ke atas deh, gue udah di atas nihh, bawaiin makanan gue juga ya”
            “ah serius lhooo, diatas VIP lhoo Kan”
            “udah dehhh, bilang waitres, gue  duduk deket panggung, si Kiran gimana? Masih bete gag  tuhh?” kata Kanya
            “heh maksud lo apa ngomong gue bete,apa huh?” kata Kiran dongkol
            “heleh, enggak mau ngaku  lagi nih bocah, udah yuk keatas aja, pasti mau ada live music kan Nya?” Kanya mengiyakan, mereka berdua di-ikuti seorang waitres langsung menuju lantai dua.
            “hei!” teriak Kanya saat melihat dua sohibnya itu celingukan, Kiran yang menyadari panggilan ‘hei’tadi  untuk  mereka berdua langsung menemukan Kanya, sudah duduk manis disana.
            “sini! Lo mau pesen makan lagi ga? Temen gue yang bayarin” kata Kanya yang langsung menyantap lasagnanya yang sudah dingin. Sebenarnya Kiran dan Aron akan memesan spageti, tapi mengingat perut mereka yang sudah kenyang mereka hanya memesan segelas lemon tea.
            “Btw siapa temen lo ?” Tanya Kiran sambil melihat-lihat buku menu. Kanya malah asik makan Lasagnanya, sedangkan Aron sedang asik dengan ponselnya. Sial gue dikacangin.
            “Gilaa ini enak banget, lo enggak mau makan lagi  Ran?” kata Kanya dengan mulut yang setengah terisi. Kiran hanya menggeleng, “Elo Ron?” kata Kanya sambil menyeruput lemon teanya. Karena belum mendapat jawaban Kanya meniup sedikit air melalui sedotannya dan...
            “Ihh Kanya lo apaan sih, jorok tauuu...” Aron langsung cemberut, sambil menahan tawa, Kiran memberikan selembar tisu,sambil misuh-misuh Aron mengelap tangannya yang basah.
            “lo nanya apaan sih Nya”  kata Aron setelah selesai.
            “lo enggak pesen makan lagi?” Aron menggeleng “eh iya sebentar  lagi ada  live music, kita  stay di  sini ya, yang mau nyanyi  ini  temen baru gue, ganteng bangettt dia yang punya kafe Cumber ini” perhatiannya langsung ke Aron yang belum ngeh.
            “entar deh lo pasti terkagum-kagum sama doi” kata Kanya bangga dan langsung memasukkan suapan terakhir lasagnanya ke dalam mulut.
            “Busettt cepet banget  lo habisnya?” kata Kiran kagum, Kanya cuman bisa mengacungkan ibu jarinya.
            “Enak banget, pengen nyoba yang  lain gue, btw itu temen gue” kata  Kanya sambil menunjuk ke arah panggung, Aron dan Kiran membalikkan badan. Mata  Kiran terbelalak sangat lebar. Tubuhnya serasa membeku, suaranya nyangkut di kerongkongan.
            “good... i think its good evening, ok now as usual i’ll sing some songs for intertains  you, ok here we go and enjoy our good foods and beverages” kata cowok itu dan langsung tatapannya langsung menelusuri ruangan, cowok itu sedikit shock saat melihat Kiran, tapi cowok itu langsung tersenyum sumringah dan mengedipkan matanya ke arah  Kiran.
            “hi there ! We meet again” kata Rafan  sambil tersenyum sumringah ke arah Kiran “ok guys karena ini dadakan gue mau solo vocal dulu, this is special song for special girl who can got my heart, and now she’s on this room with us” sekarang orang spesial itu bersama dengan kita, jantung Kiran langsung memompa darahnya dua kali lebih cepat. Semua orang berbisik,
            “siapa gadis itu?”
            “wah romantis banget  deh”
            “beruntung banget ya jadi ceweknya dia, gila gue kepengen”
            “pasti cewek itu spesial banget deh, yank aku mau dongggg”
            Kiran langsung mebalikkan badan ke meja, mukanya keliatan malu. Kanya dan Aron tersenyum menggoda. Kanya melihat adegan saat Rafan mengedipkan mata ke arah Kiran.
            “Ehem, aduh gue kok jadi salting gini sihh” kata Kanya mencoba menggoda Kiran.
            “Ih udah deh lo berdua enggak usah buat gue jadi salting gini dehh” sontak Kanya dan Aron tertawa, Kiran baru saja mengatakan pernyataan yang sangat sangat jujur.
            “Aduhh Ran... haha... aduh perut gue sakit hahaha...” kata Aron sambil memegangi perutnya.
            “Udah deh jangan pada ketawa, ini sama sekali enggak lucu”
            “Hahaha barusan lo ngaku kalo lo salting lhooo, berarti udah ada perkembangan dong!” kata Aron senang.
            “bener tuh, itu tanda-tanda kalo lo udah mulai bisa membuka hati buat orang lain, istilah galaunya apaan sih itu... aduh lupa gue, Namanya apa sih Ron lupa gue” kata Kanya dengan muka bego.
            “Move on maksud lo?... Yah gitu aja enggak tau gimana mau kuliah di Havard!” kata Aron ngeledek banget.
            “Yeeee, biarin aja kale, gue kan jarang galau emang elooo”
            “Eh udah-udah tuh penyanyinya udah main gitar, elo sih Nya” kata Aron sambil memfokuskan  perhatian ke arah Rafan, begitu juga dengan Kanya dan Kiran yang sudah lebih tenang. Petikan gitar membentuk nada-nada yang lembut, ternyata Rafan menyanyikan lagu Cacthing Feeling
          "Catching Feelings"

The sun comes up on another morning
My mind never wakes up without you on it
And it's crazy to me, I even see you in my dreams
Is this meant to be? Could this be happening to me?

We were best of friends since we were this high
So why do I get nervous every time you walk by
We would be on the phone all day
Now I can't find the words to say to you
Now what am I supposed to do?

Could there be a possibility
I'm trying to say what's up
'Cause I'm made for you, and you for me
Baby now its time for us
Tryna keep it all together
But enough is enough
They say we're too young for love
But I'm catching feelings (doo-do-doo-doo-do-do-do-do-do-do-doo)
Catching feelings (doo-do-doo-doo-do-do-do-do-do-do-doo)

In my head we're already together
I'm good alone but with you I'm better
I just wanna see you smile
You say the word and I'll be right there
I ain't never going nowhere

I'm just tryna see where this can take us
'Cause everything about you girl is so contagious
I think I finally got it done
Now all that's left to do now is get out the mirror
And say it to her

Could there be a possibility
I'm trying to say what's up
'Cause I'm made for you, and you for me
Baby now it's time for us
Tryna keep it all together
But enough is enough
They say we're too young for love
But I'm catching feelings (doo-do-doo-doo-do-do-do-do-do-do-doo)
Catching feelings (doo-do-doo-doo-do-do-do-do-do-do-doo)

Should I tell her how I really feel (how I really feel)
Or should I move in close or just be still? (how will I know?)
'Cause if I take a chance and I touch her hand
Will everything change?
How do I know if she feels the same?

Could there be a possibility
I'm trying to say what's up
'Cause I'm made for you, and you for me
Baby now it's time for us
Tryna to keep it all together
But enough is enough
They say we're too young for love
But I'm catching feelings (doo-do-doo-doo-do-do-do-do-do-do-doo)
Catching feelings (doo-do-doo-doo-do-do-do-do-do-do-doo)
(doo-do-doo-doo-do-do-do-do-do-do-doo)
Catching feelings (doo-do-doo-doo-do-do-do-do-do-do-doo)
Catching feelings....

            Semua orang bertepuk tangan saat Rafan menyelesaikan penampilan solonya, Rafan hanya tersenyum senang sambil menatap Kiran yang malu-malu. Kanya dan Aron hanya senyum-senyum, sepertinya Rafan sedang di landa falling in love at the first sigh kepada sabahat mereka ini. Kiran hanya bisa tersenyum malu-malu.
            Setelah tiga puluh menit berlalu, diiringi tepuk  tangan yang meriah dan siulan siulan Rafan turun dari panggung. Ya itu memang waktu yang di tentukan untuk Rafan perform di stage mini ini.
            Kali ini Kiran merasakan jantungnya sedang lompat-lompat enggak karuan, cewek itu juga enggak tau kenapa jantungnya sangat aneh hari ini, lebih tepatnya saat mereka menempatkan diri di ruangan VIP kafe cumber ini.
            Apa ini yang tadi di bilang sama Kanya, gue udah bisa move on dari Evan? Tapi kenapa jantung gue terasa nyeri saat memikirkan hal itu, kenapa jantung gue nyeri saat gue menolak untuk tetap mencintai Evan, kenapa perasaan gue udah enggak seindah dulu, kata orang bijak cinta itu seperti bunga, akan selalu tumbuh kalau kita merawatnya dengan baik, tapi gue yakin gue masih  cinta sama Evan. Kata Kiran merenungkan hal itu dalam hati.
            Aron dan Kanya tersenyum lega, misi pertama mereka berhasil membuat Kiran berhasil melupakan Evan. Tanpa Kiran cerita mereka sudah tahu, mungkin usaha selanjutnya adalah meyakinkan Kiran untuk mengikuti kata  hatinya, yaitu meninggalkan Evan dan mulai membuka hati untuk Rafan.
TO BE CONTINUE
Hai readersku tersayang, maaf ya aku posting yang ke 3 ini lama banget, biasa lagi sibuk  sama sekolah, tbh nyari inspirasi yang ketiga ini  emang super duper lama, karena setting yang disini tuh susah banget. Ok curhatanku segini dulu, oh iya BTW buat kalian, selamat  ya yang udah naik  kelas dan lulus hehe.
Big Love

Annisyabubbles.

Masih bisa talki' with me on 
Facebook  Annisya Berlianti II
Twitter @annisyab_
Wattpad Annisyabubbles 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar