Minggu, 29 Juni 2014


Hai ! ini dia komen dari others bubbles tercintah tentang Kiran's True Love  :) 
diharapkan kalian bisa follow twitter mereka yahh 
sorry yang udah komen belum diupload entar dehhh di upload 





Selasa, 24 Juni 2014

Kiran’s True Love

part 3
by : annisyabubbles

“sometimes we have to choose an option,
sometimes we should be sincere
 that we should leave it”
-KIRAN

Seminggu yang lalu...
            Tepat pukul 2 pagi, terdengar ketukan tak beraturan  dari luar rumah sederhana dengan gaya minimalis. Seorang laki-laki yang baru saja tidur langsung bangun dan berjalan linglung ke arah depan.
            “gu...gue mau tidur di rumah lo please please” kata seorang laki-laki dengan gemetaran, belum juga ngasih salam atau gimana udah minta numpang-numpang aja, batin laki-laki yang baru membukakan pintu. Baju yang compang-camping dan ughhh bau alkohol tercium tajam “Win please Win!”
            Darwin dengan muka yang sengak –tapi masih sedikit menutup mata gara-gara ngantuk - sedikit menyingkir dari pintu mempersilahkan Evan yang enggak lain sepupunya dari nyokapnya. Evanpun langsung duduk di kursi yang tadi buat tidur Darwin.
            “tante Evra sama Om Leo lagi enggak di Indo kan? Please lo jangan bilang sama mereka tentang kondisi gue, jangan bilang mereka ya please please, terutama sama bonyok gue!” kata Evan dengan tergesa-gesa dengan mata yang merah.
            “lo habis ngedrugs Van?!” kata Darwin langsung melek, tatapannya sangat tajam dan langsung membuat Evan kaget.
            “enggak, enggak gue enggak habis ngedrugs !  jangan asal tuduh lo !” kata Evan dengan kondisi yang sama, Darwin mulai  menyelidiki tiap jengkal muka sepupunya itu, perubahan itu sedikit terlihat di mata Evan yang memancarkan sinar yang cemas dan tatapan seperti orang teler.
             Dengan pasrah Darwin mepersilahkan Evan tidur di kamarnya dan dirinya sendiri memilih tidur di sofa. Apapun yang  terjadi orang dewasa enggak boleh  tahu soal ini, bukan tidak boleh tahu pasti ada waktu yang tepat karena bantuan Tuhan yang selalu  melindungi setiap umatnya. Setiap jarum detik bergerak bertambah pula beban di mata Rafan dan mengharuskan laki-laki tersebut terlelap dan memimpikan sesosok yang akhir-akhir ini membayangi mimpinya.
***
            Sekarang...
            “KIRAN!!!” teriak kedua sahabatnya itu tepat di kedua telinganya, Aron di sebelah  kiri  dan Kanya di sebelah kanan, komplit sudah kedua telinganya rusak. Kiran langsung tersentak dan menutup kedua telinganya karena  mendengar kor kedua sohibnya itu.
            “ihhh kalo manggil jangan di telinga gue dong! Entar gue budek!” kata Kiran jengkel, saat di melirik kedua sahabatnya tersebut, mereka sedang melongo dongkol. Karena sebelum mereka berdua teriak Kiran emang udah budek , di panggil berkali-kali tetep enggak ngerespon,  tuh anak kelewat daydreaming. Saat Aron akan bertanya Kiran sudah menjawab...
            “gue tahu yang tadi lo berdua omongin,  lo berdua mau ngajak gue buat ke puncak waktu kelas 12 us kan? Terus kita nginep di tempat temennya Brandon sama Steve, terus lo  berdua mau beli  parfum orinya viva la juice, ada yang gue lewatin???”
            Jelas Kiran panjang lebar kali tinggi, dikeluarkannya napas berat yang terdengar menyakitkan di kuping kedua sahabatnya tersebut. Mereka tahu kenapa napas berat itu terjadi, tapi Kiran korban penipuan buaya darat bacotnya aja yang gede, Aron dan Kanya tahu apa yang membuat cowok BERENGSEK itu membatalkan janjinya. Tak mau menambah beban Karin lagi mereka memilih diam dan menikmati nasi uduk yang tadi sempat tertunda gara-gara meneriaki Karin.
           
            Di tempat yang berbeda waktu yang bersamaan...
            Sesosok laki-laki yang dulu bertubuh kekar kini menjadi sangat kurus, beberapa zat yang ilegal telah menggerogoti bagian dalam organ tubuh laki-laki itu perlahan-lahan, tidak ada yang tahu bahkan orang terdekatnya saja tidak tahu, orang yang sangat dia cintai  dan sekarang cinta itu perlahan pudar karena tidak ingin dirinya menyakiti perempuan tersebut.
            Pada saat ini tubuhnya minta di cekoki zat tersebut, dengan mengendap endap ke gudang belakang yang tersembunyi. Dengan perlahan tangannya mengangkat kayu-kayu yang di tata sedemikian  rupa agar tidak di curigai oleh oknum-oknum yang tidak di diinginkan.
            “wah tumben bosss!!!”kata seorang laki-laki yang tubuhnya tak jauh beda dari dia langsung melemparkan bungkusan kecil, laki-laki tersebut langsung memasukkannya ke dalam kantong dan mengambil sebatang rokok mentol yang ditawarkan temannya yang lain.
            Dalam sekejap asap memenuhi kedua paru-paru laki-laki tersebut, hawa dingin memenuhi hidung dan mulutnya yang baru saja mengeluarkan asap. Semua pikiran yang tadi membayanginya mendadak menguap berbarengan  dengan keluarnya asap-asap yang mengepul tinggi itu.
            “gue denger kemaren lo batalin janji lagi sama cewek  lo itu Van?” kata Bonar yang sekarang duduk di sebelahnya sambil makan kacang atom. Evan hanya mendengus geli melihat temannya itu, itu cara Bonar menghilangkan aroma-aroma rokok. Evan hanya mengangguk dan menghembuskan asap rokok.
            “udah jalan sama si Kiran ditambah si Era ckckck maruk banget lo” Evan langsung menghindar saat Bonar melempar kacang atom ke arahnya.
            “Ye mending dia punya dua, boro-boro 5 satu aja lo putus nyambung” kata Tony yang keliatan paling waras, si Tony emang baby banget, pernah sekali dia mencoba menghisap rokok dia batuk-batuk sampai 5 hari.
            “Ahh elo masih disini rupanya, gue kira udah balik” kata Evan sambil melempar puntung rokok yang sudah habis lalu menginjaknya hingga hancur. Pernah sekali Kiran menasehati Evan – Kiran tahu Evan perokok tapi, Evan mengaku sudah berhenti ke Kiran- Satu batang rokok itu sama aja korupsi.
            Menurut Kiran sebagian dari uang kita itu juga hak dari orang lain, uang yang Evan beli buat  rokok itu akhirnya akan jadi sampah yang menyebabkan banjir di Jakarta, kalau si Evan mau nurutin kata-kata si Kiran pasti uang itu udah berguna banget buat orang yang membutuhkan.
            Evan hanya tersenyum saat mengingat momen itu, momen dimana Kiran sangat memperhatikan dirinya dan hal itu selalu membuat bibirnya melengkung ke bawah sempurna. Bonar yang melihat sohibnya senyum-senyum sendiri hanya menggeleng dan segera bangkit karena lima belas menit lagi bel masuk berbunyi, begitu juga dengan yang lain.
            Setelah menutup rapi tempat persembunyian mereka berjalan bering-iringin,seperti biasa Evan berada di barisan  paling depan sedangkan yang lain mengekor. Selama perjalan ke  kelas, banyak cewek cewek yang pada flirting ke mereka. Tapi mereka menganggap mereka angin lalu.
            “Van, Van si Kiran tuh”kata Bondan setengah berbisik, Evan langsung ngerapiin bajunya yang tadi berantakan.
            Kiran yang menyadari ada Evan dan gerombongannya langsung masang muka cuek, iyalah! Dia masih kesel sama Janji nge-date yang batal. “Hai sayang” tiba-tiba Evan mendekat ke Kiran dan merangkul lengan cewek itu. Kiran langsung menepis dan bersedekap.
            “Ki...Kiran kamu kenapa sih?” Kiran menatap Evan dingin.
            “Seharusnya gue yang tanya elo kenapa?!” bentak Kiran, Aron dan Kanya tersentak kaget, mereka langsung mendekat ke Kiran, inilah kebiasaan Kiran kalo udah jengkel banget sama Evan,  dia pake  elo-gue. “kenapa setiap ada janji sama gue elonya batalin terus, gue capek Van! Gue curiga nih jangan-jangan...”
            “Kiran kamu ngomong apasihh? Mana mungkin  aku punya selingkuhan” potong Evan, “ayolah Kiran, kemaren aku udah bilang kalo mama sama papa aku mendadak banget ngabarinnya” Evan mencoba menggenggam tangan Kiran, tapi Kiran langsung melengos pergi.
            “Kalo sampe lo nyakitin Kiran, lo akan berhadapan sama kami!” ancam Kanya sebelum pergi ke arah kelas. Evan mengumpat pelan.
            “ckckck... emang ribet ya jadi playboy super, mendingan gue dehhh, ganteng-ganteng gini gue setia” kata Bondan yang langsung di sambut dengan sorakan kecil dari rombongan itu.
            “yaudah pada balik sono ke kelas,emang ini sinetron apa sho sho...” kata Tony kepada murid murid yang baru pulang dari kantin.
            “sialan! Bisa remuk hati gue kalo gini”
            “Eitsss... remuk remuk gitu entar di ganti sama si Era”
            “tengil lo hahahaha” Evan berjalan ke kelasnya dan tanpa memikirkan Kiran lagi.
***
            SEMINGGU KEMUDIAN...           
            Seharusnya sore itu Kiran bisa nonton film sepuasnya -berhubung besok Jumat hari libur, sekolah memutuskan hari Sabtu juga libur- mulai dari yang romantis sampai yang horor horor gitu, ditemani satu botol  penuh susu coklat, seplastik keripik pedas, roti bakar coklat yang paling ajibbbb, nyalaiin pendingin ruangan tanpa ada gangguan apapun.
            Rencana itu hancur lebur saat Kanya dan Aron masuk ke kamarnya dan memaksanya untuk cepat mandi.
            “aduhhh emang kenapa sih gue suruh cepet-cepet males banget  deh” kata Kiran saat masuk ke kamar mandi, Kanya dan Aron cekikikan sambil menyiapkan baju buat Kiran. Alhasil sekarang Kiran duduk bersama sohibnya, setelah mereka memaksa Kiran memakai dress floral dan sepatu keds berwarna krem, sebenernya Kanya nyaranin Kiran pake heels yang warna emas tapi Kiran ngancem Kanya dengan cara menolak ikut hangs out ke acara apalah itu. Emang dasar si Kiran, susah banget deh kalo udah debat sama dia.
            “Kiran senyum dong!” Kinya langsung senyum terpaksa yang jatuhnya malah nyeremin dan kilatan cahaya dari kamera polaroid menangkap gambar Kinya dan Aron, tak beberapa lama, selembar kertas keluar dan menghasilkan foto mereka.
            “Ahh Kiran, lo senyum kek, disini gue udah cakep begini elonya jelek-jelekkin sih” keluh Aron sambil memandangi kertas foto itu.
            “Lo kenapa sih Ran seminggu ini badmood banget, untung aja nilai-nilai ulangan kemaren enggak jeblok! Kalo iya bakal gue goreng lo!” kata Kanya kayak emak-emak.
            “Ya iyalah hari ini gue badmood, eh bukan deh sore ini! Ini tuh sore yang mau gue lalui sambil nonton film, dan  tiba-tiba...”
            “Negara api menyerang” potong Kanya niruin kalimat film avatar “ahh Kiran please, you’ve watched it repeatedly, ini waktunya lo refreshing, mungkin aja kali ini lo dapet gebetan atau  gimana gitu” kata Kanya panjang lebar yang langsung di setujui oleh Aron.
            Ngomong-ngomong soal gebetan, Kiran  kepikiran temennya si Vijay yg waktu itu, aduhhh lupakan namanya, keluh Kiran dalam hati. Masa gitu aja lupa sih gueee... huh siapa sihhh, Afan? Refan? Ervan? Duhhh. Gerutu Kiran jengkel dalam hati.
            “Aduh..duh bentar ya gue mau ke toilet dulu” Kanya langsung ngacir ke toilet dan saat itu pula makanan pesanan mereka datang, dua piring lasagna dan sepiring nasi plus ayam teriyaki. Kiran yang udah lapar banget ditambah harus mengingat  nama teman Vijay itu langsung menyikat lasagnanya dan menambah sedikit saos di atas lasagnanya, begitupun Aron langsung makan ayam teriyakinya.
            Kanya yang baru aja keluar dari kamar mandi langsung berjalan ke arah laki-laki yang dari tadi mencuri perhatiannya, sepertinya orang itu familier. Saat berjalan mendekat, Kanya tersentak kaget saat laki-laki itu berbalik ke arahnya.
            “hai!” sapa Kanya antusias, cowok itu melambai ke arah Kanya dan  memeluk sekilas Kanya.
            “elo Kanya kan ya ?, enggak nyangka ketemu lagi disini” kata cowok itu sambil mempersilahkan duduk  Kanya.
            “iya, Brandon sama Steven lagi pergi sama anak-anak basket, jadi gue, Aron sama sahabat gue hang out kesini, biasa sahabat gue itu lagi ada masalah sama cowoknya yang bajingan tingkat dewa, kenapa gue bilang bajingan?” tanya Kanya gemas, cowok itu hanya mengangkat alisnya yang sedikit tebal, tanda tidak tahu.
            “karena gue sama Aron pernah mergokkin dia lagi selingkuh sama nenek sihir di kafe ini! Kebayang enggak sih kalo lo jadi gue, trus ngeliat pacar sahabat lo selingkuh sama nenek sihir yang genit, yang ewww banget, pengen gue tonjok tuh muka sampe biru-biru” Kanya langsung ngos-ngossan saat menceritakan itu. Seakan baru menyadari sesuatu Kanya langsung membekap mulutnya, yaampunnnn gue ngapain sih cerita sama dia, bego bego begooooo.
            “aduhh...emm...ehh sorry ya gue keceplosan, sorry sorry hehe, sifat bawaan gue dari kecil nih, kalo ngomong emang enggak bisa ngerem.” Pipi Kanya sedikit memerah
            “Nope, kalo sama gue biasa aja kali hehe” kata cowok itu ramah “eh iya lo pindah ke VIP aja” kata cowok itu, kafe ini memang di lengkapi dengan  tempat VIP yang berada di atas.
            “tapi elo yang bayar! jangan kayak kemaren dong”  cowok itu terkekeh geli dan mengacungkan kedua jempolnya.
            “eh iya Nya gue ke atas dulu ya mau live nihh, langsung aja ke atas, bilang lo temen gue.”  Cowok itu langsung ke atas sambil bawa gitar.
            Sementara itu piring di depan dua cewek itu langsung ludes, Kiran yang biasanya makan lasagna enggak pernah bersih, sekarang dia makan sampai piringnya kinclong, sementara di piring Aron hanya tersisa sayuran, karena dia lagi males makan sayur.
            “Gilaa!!! Bisa tidur nyenyak gue entar malem” kata Kiran sambil menyeruput air mineral dinginnya “Eh Ron ini kafe apaan sih,gue mau resmiin ini  jadi tempat nongkring kita ah”
            “yaelah Ran, lo enggak baca tulisan di depan kafe apa?ini tuh Cumber Cafe, kalo enggak salah ini punyanya temennya si Steven sama si Brandon gitu,bentar-bentar ini si Kanya telpon gue” Aron langsung meload speaker hpnya
            “Ron, lo pindah meja ke atas deh, gue udah di atas nihh, bawaiin makanan gue juga ya”
            “ah serius lhooo, diatas VIP lhoo Kan”
            “udah dehhh, bilang waitres, gue  duduk deket panggung, si Kiran gimana? Masih bete gag  tuhh?” kata Kanya
            “heh maksud lo apa ngomong gue bete,apa huh?” kata Kiran dongkol
            “heleh, enggak mau ngaku  lagi nih bocah, udah yuk keatas aja, pasti mau ada live music kan Nya?” Kanya mengiyakan, mereka berdua di-ikuti seorang waitres langsung menuju lantai dua.
            “hei!” teriak Kanya saat melihat dua sohibnya itu celingukan, Kiran yang menyadari panggilan ‘hei’tadi  untuk  mereka berdua langsung menemukan Kanya, sudah duduk manis disana.
            “sini! Lo mau pesen makan lagi ga? Temen gue yang bayarin” kata Kanya yang langsung menyantap lasagnanya yang sudah dingin. Sebenarnya Kiran dan Aron akan memesan spageti, tapi mengingat perut mereka yang sudah kenyang mereka hanya memesan segelas lemon tea.
            “Btw siapa temen lo ?” Tanya Kiran sambil melihat-lihat buku menu. Kanya malah asik makan Lasagnanya, sedangkan Aron sedang asik dengan ponselnya. Sial gue dikacangin.
            “Gilaa ini enak banget, lo enggak mau makan lagi  Ran?” kata Kanya dengan mulut yang setengah terisi. Kiran hanya menggeleng, “Elo Ron?” kata Kanya sambil menyeruput lemon teanya. Karena belum mendapat jawaban Kanya meniup sedikit air melalui sedotannya dan...
            “Ihh Kanya lo apaan sih, jorok tauuu...” Aron langsung cemberut, sambil menahan tawa, Kiran memberikan selembar tisu,sambil misuh-misuh Aron mengelap tangannya yang basah.
            “lo nanya apaan sih Nya”  kata Aron setelah selesai.
            “lo enggak pesen makan lagi?” Aron menggeleng “eh iya sebentar  lagi ada  live music, kita  stay di  sini ya, yang mau nyanyi  ini  temen baru gue, ganteng bangettt dia yang punya kafe Cumber ini” perhatiannya langsung ke Aron yang belum ngeh.
            “entar deh lo pasti terkagum-kagum sama doi” kata Kanya bangga dan langsung memasukkan suapan terakhir lasagnanya ke dalam mulut.
            “Busettt cepet banget  lo habisnya?” kata Kiran kagum, Kanya cuman bisa mengacungkan ibu jarinya.
            “Enak banget, pengen nyoba yang  lain gue, btw itu temen gue” kata  Kanya sambil menunjuk ke arah panggung, Aron dan Kiran membalikkan badan. Mata  Kiran terbelalak sangat lebar. Tubuhnya serasa membeku, suaranya nyangkut di kerongkongan.
            “good... i think its good evening, ok now as usual i’ll sing some songs for intertains  you, ok here we go and enjoy our good foods and beverages” kata cowok itu dan langsung tatapannya langsung menelusuri ruangan, cowok itu sedikit shock saat melihat Kiran, tapi cowok itu langsung tersenyum sumringah dan mengedipkan matanya ke arah  Kiran.
            “hi there ! We meet again” kata Rafan  sambil tersenyum sumringah ke arah Kiran “ok guys karena ini dadakan gue mau solo vocal dulu, this is special song for special girl who can got my heart, and now she’s on this room with us” sekarang orang spesial itu bersama dengan kita, jantung Kiran langsung memompa darahnya dua kali lebih cepat. Semua orang berbisik,
            “siapa gadis itu?”
            “wah romantis banget  deh”
            “beruntung banget ya jadi ceweknya dia, gila gue kepengen”
            “pasti cewek itu spesial banget deh, yank aku mau dongggg”
            Kiran langsung mebalikkan badan ke meja, mukanya keliatan malu. Kanya dan Aron tersenyum menggoda. Kanya melihat adegan saat Rafan mengedipkan mata ke arah Kiran.
            “Ehem, aduh gue kok jadi salting gini sihh” kata Kanya mencoba menggoda Kiran.
            “Ih udah deh lo berdua enggak usah buat gue jadi salting gini dehh” sontak Kanya dan Aron tertawa, Kiran baru saja mengatakan pernyataan yang sangat sangat jujur.
            “Aduhh Ran... haha... aduh perut gue sakit hahaha...” kata Aron sambil memegangi perutnya.
            “Udah deh jangan pada ketawa, ini sama sekali enggak lucu”
            “Hahaha barusan lo ngaku kalo lo salting lhooo, berarti udah ada perkembangan dong!” kata Aron senang.
            “bener tuh, itu tanda-tanda kalo lo udah mulai bisa membuka hati buat orang lain, istilah galaunya apaan sih itu... aduh lupa gue, Namanya apa sih Ron lupa gue” kata Kanya dengan muka bego.
            “Move on maksud lo?... Yah gitu aja enggak tau gimana mau kuliah di Havard!” kata Aron ngeledek banget.
            “Yeeee, biarin aja kale, gue kan jarang galau emang elooo”
            “Eh udah-udah tuh penyanyinya udah main gitar, elo sih Nya” kata Aron sambil memfokuskan  perhatian ke arah Rafan, begitu juga dengan Kanya dan Kiran yang sudah lebih tenang. Petikan gitar membentuk nada-nada yang lembut, ternyata Rafan menyanyikan lagu Cacthing Feeling
          "Catching Feelings"

The sun comes up on another morning
My mind never wakes up without you on it
And it's crazy to me, I even see you in my dreams
Is this meant to be? Could this be happening to me?

We were best of friends since we were this high
So why do I get nervous every time you walk by
We would be on the phone all day
Now I can't find the words to say to you
Now what am I supposed to do?

Could there be a possibility
I'm trying to say what's up
'Cause I'm made for you, and you for me
Baby now its time for us
Tryna keep it all together
But enough is enough
They say we're too young for love
But I'm catching feelings (doo-do-doo-doo-do-do-do-do-do-do-doo)
Catching feelings (doo-do-doo-doo-do-do-do-do-do-do-doo)

In my head we're already together
I'm good alone but with you I'm better
I just wanna see you smile
You say the word and I'll be right there
I ain't never going nowhere

I'm just tryna see where this can take us
'Cause everything about you girl is so contagious
I think I finally got it done
Now all that's left to do now is get out the mirror
And say it to her

Could there be a possibility
I'm trying to say what's up
'Cause I'm made for you, and you for me
Baby now it's time for us
Tryna keep it all together
But enough is enough
They say we're too young for love
But I'm catching feelings (doo-do-doo-doo-do-do-do-do-do-do-doo)
Catching feelings (doo-do-doo-doo-do-do-do-do-do-do-doo)

Should I tell her how I really feel (how I really feel)
Or should I move in close or just be still? (how will I know?)
'Cause if I take a chance and I touch her hand
Will everything change?
How do I know if she feels the same?

Could there be a possibility
I'm trying to say what's up
'Cause I'm made for you, and you for me
Baby now it's time for us
Tryna to keep it all together
But enough is enough
They say we're too young for love
But I'm catching feelings (doo-do-doo-doo-do-do-do-do-do-do-doo)
Catching feelings (doo-do-doo-doo-do-do-do-do-do-do-doo)
(doo-do-doo-doo-do-do-do-do-do-do-doo)
Catching feelings (doo-do-doo-doo-do-do-do-do-do-do-doo)
Catching feelings....

            Semua orang bertepuk tangan saat Rafan menyelesaikan penampilan solonya, Rafan hanya tersenyum senang sambil menatap Kiran yang malu-malu. Kanya dan Aron hanya senyum-senyum, sepertinya Rafan sedang di landa falling in love at the first sigh kepada sabahat mereka ini. Kiran hanya bisa tersenyum malu-malu.
            Setelah tiga puluh menit berlalu, diiringi tepuk  tangan yang meriah dan siulan siulan Rafan turun dari panggung. Ya itu memang waktu yang di tentukan untuk Rafan perform di stage mini ini.
            Kali ini Kiran merasakan jantungnya sedang lompat-lompat enggak karuan, cewek itu juga enggak tau kenapa jantungnya sangat aneh hari ini, lebih tepatnya saat mereka menempatkan diri di ruangan VIP kafe cumber ini.
            Apa ini yang tadi di bilang sama Kanya, gue udah bisa move on dari Evan? Tapi kenapa jantung gue terasa nyeri saat memikirkan hal itu, kenapa jantung gue nyeri saat gue menolak untuk tetap mencintai Evan, kenapa perasaan gue udah enggak seindah dulu, kata orang bijak cinta itu seperti bunga, akan selalu tumbuh kalau kita merawatnya dengan baik, tapi gue yakin gue masih  cinta sama Evan. Kata Kiran merenungkan hal itu dalam hati.
            Aron dan Kanya tersenyum lega, misi pertama mereka berhasil membuat Kiran berhasil melupakan Evan. Tanpa Kiran cerita mereka sudah tahu, mungkin usaha selanjutnya adalah meyakinkan Kiran untuk mengikuti kata  hatinya, yaitu meninggalkan Evan dan mulai membuka hati untuk Rafan.
TO BE CONTINUE
Hai readersku tersayang, maaf ya aku posting yang ke 3 ini lama banget, biasa lagi sibuk  sama sekolah, tbh nyari inspirasi yang ketiga ini  emang super duper lama, karena setting yang disini tuh susah banget. Ok curhatanku segini dulu, oh iya BTW buat kalian, selamat  ya yang udah naik  kelas dan lulus hehe.
Big Love

Annisyabubbles.

Masih bisa talki' with me on 
Facebook  Annisya Berlianti II
Twitter @annisyab_
Wattpad Annisyabubbles 

Rabu, 02 April 2014

Kiran’s True Love
By :annisyabubbles
PART 2
               
“i meet an angel in my heaven,I really need fix hers wings
 because a devil broke hers”
-Rafan-
                Dikamarnya, Vijay tersenyum puas, Kiran berhasil dia ajak ke tempat futsalnya, daripada melihat Kiran itu uring-uringan seharian gara-gara Evan brengsek ,mending ngenalin sama temen-temen gue. Gumam Vijay puas.
                 Vijay mengetahui sesuatu tentang Evan yang belum mau di kasih tahu ke Kiran. Vijay belum siap melihat adiknya yang seperti batu karang, rubuh karena cowok berengsek macam Evan. Vijay langsung beranjak dari rebahannya dan menyiapkan alat-alat untuk futsal, lapangan sudah di pesan Andrew, sohibnya, lapangan VVIP yang cozy banget, Semoga rencana gue berhasil, Amien!.
 
                “Ran woy Kiran! Cepettan gue di tungguin anak-anak nih” teriak Vijay dari luar kamar Kiran. Kiran yang baru saja memakai lipblam cepat cepat mengoleskan ke bibir merahnya dan memasukkan ponsel-ponselnya dan dompet ke tas hitam berumbai pendek .
                “Gilaaa, dandan aja lama banget, kayak mau ke pesta aja lo” kata Vijay yang ngeliatin Kiran dari bawah ke tas, hmm karena ceritanya Kiran mau tebar pesona ya malam ini dia pake crop tee cream bergambar tengkorak dengan vest jeans ombre dan celana jeans panjang dengan sepatu keds cream.
                “idih apaan sih yuk jalan” Kiran turun duluan, Vijay tersenyum geli, dia tahu adiknya akan merespon penuh ajakan ini, kan lumayan kenal sama cowok-cowok ganteng plus pinter di lapangan futsal.
                “ma, Kiran ikut Vijay ke tempat futsal” kata Kiran sambil mengambil sepotong daging panggang dari meja makan, mamanya Kiran baru saja mau makan.
                “astaga Kiran kamu tuh perempuan, makan sambil duduk sini sini” mama  memundurkan kursi kayu di sebelah kanannya.  Kiran langsung duduk sambil menunggu Vijay.
                “kamu mau kemana Ran?” tanya mama sambil memotong daging  menjadi potongan kecil-kecil. Belum sempat Kiran menjawab, Vijay udah gabung sama mereka.
                “biasa ma, si Kiran mau CGB sama anak-anak futsal” jawab Vijay asal, mama hanya tersenyum melihat anak sulungnya itu.
                “hah? Apaan tuh CPB ?” Vijay menyeringai geli “hish emang dasar ndeso lo, CPB itu Cari Pacar Baru, katanya update”  kata Vijay mengejek, Kiran hanya bengong enggak banget deh, gumamnya dalam hati.
                “waduh waduh udah pada rapi mau kemana nih?” tiba-tiba aja seorang laki-laki berumur empat puluhan muncul dari arah luar ruang makan. Kiran is surprising, then Vijay too
                “PAPA!!!” Kiran langsung memeluk erat ayahnya yang sempat limbung karena saking eratnya pelukan sang putri, papa hanya tersenyum senang. Vijay juga begitu tapi enggak se heboh Kiran.
                “waduh udah dong, papa enggak bisa napas nih”
                Sontak saja Vijay dan Kiran melepas pelukan ayahnya and let him enjoy the dinner with his wife. Mama hanya tersenyum senang, sebenarnya ayah Kiran di jawadwalkan masih tetap stay di Spore selama 2bulan lebih, dan surprise beliau sudah tiba di Indonesia selamat. Begitulah tuntutan perkerjaannya, yang mengharuskan beliau keluar kota berminggu-minggu, bahkan bisa saja ke luar negeri berbulan-bulan. He’s an  architect.
               
                “hey, ayo pada makan malem dulu, mama udah masak lho” kata papa yang baru saja melahap sesuap nasi dengan sayur sup jagung. Kiran dan Vijay menggeleng bersamaan.
                “kita mau pergi pa, nemenin Vijay futsal” kata Kiran
                “iya bener , sekalian si Kiran nyari pacar baru” Kiran langsung memelototi kakaknya. Papanya hanya mengangkat sebelah alis, mama hanya tersenyu,.
                “gini lho, kata Vijay si Kiran mau di kenalin sama temen-temen setim futsalnya” jelas mama hangat, papa hanya mengangguk setuju sambil mengunyah.
                “kamu udah break up sama Evan Ran?” Kiran menggeleng pelan. “ yaudah papa bolehin deh pergi,tapi inget jangan pulang malem-malem.” Kiran langsung pamit dan berjalan ke arah garasi, begitupun Vijay.
                “lo pake ini deh, gag bagus buat perempuan udara malem” Vijay menyodorkan jaket hitam yang kebesaran saat Kiran memakainya.
                “em ada yang lebih besar lagi enggak?” tanya Kiran sebal, Vijay hanya terkekeh geli.
                “enggak ada, kalo lo ngambil  di atas pasti bakalan lama  lagi gue nunggunya, cepet cepet, entar gue di omelin sama leader gue nih” Vijay langsung menyalakan mesin motor, Kiran langsung membonceng di belakangnya, sebelum memakai helm, Kiran menggelung rambutnya agar tidak berantakan dan kusut, kan Kiran amu tebar-tebar pesona (?). 
                Tak beberapa lama motor Vijay meluncur keluar rumah dengan kecepatan cukup tinggi, karena jalanan cukup sepi.

Cumber Cafe- at the same time.
                “Aron, lo pesen apaan?” tanya Kanya heboh, emang malam ini si Aron baru dapet bonus dari Nyokapnya, gara-gara seminggu ini Aron selalu dapat nilai yang bagus, so dia mau bagi-bagi rezeki sama pacar dan 2 sohibnya yang bisa gabung. Nah di Cumber Cafe tempat mereka nongkrong kali ini, Cafe yang lagi booming banget, karena tenpatnya yang cozy dan fucking cool.
                “em , lasagna medium cheseenya di tambahin ya mas.” kata Aron lalu di catat pelayan. Steve dan Brandon memesan Nasi goreng daging, sedangkan Kanya yang lagi diet ketat cuman makan Salad buah yang terkenal di Kafe ini.
                “eh gimana si Kiran, kok enggak ada kabar?” tanya Steve memulai pembicaraan. Kanya dan Aron hanya saling tatap.
                “mungkin kali ini si Evan serius kali ya? Saking senengnya si  Kiran enggak sempet ngabarin kita-kita” kata Brandon, beberapa menit kemudian Aron yang masih memikirkan jawaban tentang bunga mawar hanya bengong sampai akhirnya dia menceritakan rasa penasarannya tersebut. Steve  dan Brandon hanya bingung. Hanya satu kata di otak mereka saat mendengar cerita itu, selingkuh.
                “tapi kalo emang mau di kasih ke Kiran, seharusnya Kiran enggak ngumpettin bunganya dong, pasti di pegang terus tuh bunga, secara lo tahu si Kiran sifatnya kalo dia lagi seneng enggak bisa di simpen” Kanya dan Aron mengangguk, sedangkan steve yang emang dasarnya lemuoot banget, cuman bengong mendengarkan penjelasan Brandon. Tapi dia tahu, orang-orang di sekitarnya lagi membahas A couple yang udah ngetrend di sekolah.
                Tiba-tiba pandangan Steve terpaku pada sosok yang ada di dekat pintu masuk, jaket parasut hitam dengan tanda cetang di bagian dada, berambuk spike dan muka maskulin. Steve langsung terkejut.
                “RAFAN?!” teriak Steve diikuti pandangan heran Brandon, Brandon yang belum ngeh langsung mencolek pundak Steve. “itu tuh, ada Rafan gila, makin ganteng aja dia!” kata Steve sambil menunjuk seseorang yang menatapnya heran, sesaat kemudian Rafan tersenyum.
                Brandon dan Steve tertawa geli melihat Rafan, sohib mereka waktu mereka masih duduk di bangku SMP. Yang dulu masih culun jaman smp, yang di sekolah terkenal bego banget soal pelajaran Fisika, yang dulu rambutnya masih di belah pinggir, and now!!! He’s like a perfect model.
                “gila !!! lama enggak ketemu lo berubah banyak banget Fan” kata Steve yang langsung memeluk sahabatnya itu. Brandon tersenyum senang. Sedangkan Aron dan Kanya jadi yang gantian bengong, mana tadi ada acara peluk-pelukkan lagi.
                “iya dong masa gue mau kayak dulu lagi, entar  enggak ada cewek yang demen sama gue” kata Rafan sambil ngedipin mata ke arah dua cewek cantik yang lagi mandangin Rafan tanpa kedip. Brandon yang tahu maksud Rafan langsung melirik ke arah Kanya dan Aron yang lagi salting.
                “eh eh... punya gue tuh” kata Brandon sambil melototin Rafan. Kanya langsung terkekeh geli melihat cowoknya yang bisa bersifat kekanak-kanakan. Belum sempat Rafan mengeluarkan suaranya sambil melirik Aron, Steve langsung duduk di sebelah Aron dan merangkul pundak cewek itu.
                “ini punya gue!” kata Steve jutek, Rafan hanya terkekeh geli, “yah padahal mau gue ambil tuh, ternyata udah pada ada yang punya” kata Rafan jenaka diikuti tatapan tajam Steve dan Brandon, di kira barang apa?. Pikir mereka berdua.
                “heh heh, lo main ambil aja, lu kira gue barang apa?” kata Aron jengkel,  Rafan hanya terkekeh.
                “hey just kidding dudes!, eh iya pada mau satnight di sini? Udah pada pesen makanan?”  kata Rafan duduk di bangku yang tersisa ,Steve megangguk. “iye udah, emang kenapa? Mau gabung lo?”
                “enggak lah gila apa jadi obat nyamuk begini” steve terkekeh geli sambil melempar tusuk gigi yang ada di meja “kunyu lo” kata Brandon sambil terkekeh.
                “yaudah lu pesen sepuasnya deh” kata Rafan sambil berdiri dari  duduknya. Steve langsung seneng banget, malam ini dia bisa makan gratis sepuasnya di sini.
                “wehh hebat lu Fan, lo bayarin kita ?” kata Brandon senang, Rafan menggeleng.
                “apa lo yang punya restoran ini, hebat bener, cowok gede sukses lo Fan” kata Kanya semangat, Rafan terkekeh geli sambil menggelengkan kepala.
                “maksud gue lo pesen sepuasnya aja, terus lo bayar sendiri deh hahaha” kata Rafan sambil tertawa. Keempat makluk yang ditinggalkannya itu langsung mengumpat bersama.
                “Rafan gila!!!”
                “bego lo!”
                “gue kira yang punya elo, sialan!”            
                “ih Rafan jahil banget deh” nah yang terakhir ini ngucappinnya beda banget, rada centil gitu, siapa lagi kalo bukan Aron.
                “dari dulu sampe sekarang emang satu yang enggak beda, jahilnya itu lho astagfirullah”  kata Steve gemas. Tiga puluh menit kemudian, Aron dan Kanya berjalan ke arah kasir, mereka kaget banget waktu bill makanan mereka sudah lunas. Dengan tampang bingung Kanya dan Aron berjalan ke meja mereka.
                “sukses bener deh tuh anak” kata Brandon diikuti anggukan Steve. “yaudah yuk kita mau pulang atau begimana?” kata Kanya sambil berjalan duluan.
                “pulang aja deh udah  malem, nongkrong di rumah gue aja, sekalian nonton film” kata Aron sambil menyusul Kanya. Jadi Brandon dan Steve berada di belakang sedang membicarakan sesuatu, sedangkan Kanya dan Aron memeperhetikan kafe sambil memperhatikan kafe yang mulai penuh oleh pasangan-pasangan muda dan beberapa kelompok orang.
                Aron yang emang matanya sangat jeli menangkap seseorang yang sedang duduk di sudut ruangan dekat dengan jendela besar, seorang laki-laki berpostur sedang dengan perempuan sebaya dengan dandanan yang sangat classy and make her so older.
                Baru beberapa menit kemudian, Aron tersentak kaget dan menarik Kanya untuk melihat dua orang di ujung sana. Aron menarik tangan Kanya sampai posisi mereka tersembunyi di sekat pembatas ruangan.
                “Aduh Ron, sakit tau! Emang ada apaan sih?” protes Kanya sambil mengusap pergelangan tangannya yang merah karena di tarik Aron tadi.
                “lu kecilin suara dikit dong, entar si Evan tau!” kata Aron tertahan sedangkan matanya tetap mengawasi sosok itu, Kanya langsung kaget.
                 “Evan? Bukannya si Evan lagi date sama Kiran?”
                “aduh Kanya lo lihat deh, itu si Evan sama si Nenek!” Kata Aron gemas, Kanya yang baru saja mendapati sosok Evan sedang menggenggam tangan Era, ketua team cheers yang emang terkenal centil. Ingin Kanya melabrak Evan dan Nenek itu.( Aron, Kanya dan Kiran memanggil Era dengan panggilan Nenek, karena dandanannya membuat Era lebih tua dari umurnya)
                “Ya elah, aku cariin kamu di sini, Ayo hun balik.”kata Brandon yang membuat Kanya dan Aron kaget  yang otomatis membuat Kanya mengurungkan sifatnya. Dengan emosi yang sudah mencapai limit gara-gara melihat perlakuan Evan tadi, Kanya menghembuskan nafas kesal dan berjalan duluan meninggalkan cowoknya dan Aron di belakang.
                “Kanya kenapa Ron?” kata Brandon heran sambil berjalan menyusul Kanya. Aron jadi gagap jawabnya, dia enggak berani bilang yang sebenernya, takut Brandon ngamuk gara-gara si brengsek itu.
                “oh gue enggak tau tuh, entar deh gue tanyaiin yaudah yuk ke mobil Steve udah nunggu di  sana kan?” Aron menarik lengan Brandon cepat. Dan untuk meyakinkan Aron menengok ke arah belakang, dan benar, Evan mencium punggung tangan Era. Ya Ampun Evan gue bikin lo babak belur besok!. Aron dan kawan-kawan langsung meninggalkan Cumber Cafe.

                Mata Kiran terbinar-binar saat melihat lapangan futsal , ok ralat, secara nyata. Kiran belum pernah kelapangan bola maupun futsal dimanapun, karena tempat ini sungguh menjijikan karena bau keringat laki-laki yang tercium enggak sedap karena selesai memainkan bola itu.
                 Ternyata enggak seburuk apa yang dia bayangkan, baunya yang wangi karena pengharum ruangan, (hey, ini ruangan VVIP, karena sudah malam Vijay cs memilih lapangan indoor). Kiran dan Vijay langsung duduk di bangku semen di  pinggir lapangan yang sudah banyak dengan laki-laki bertubuh atletis dan... good looking.
                “hay my bro !” Vijay langsung menyambut sapaan salam dari cowok bertubuh jakung yang mengenakan jaket hitam yang jika di ingat sama dengan jaket yang sekarang udah menggantung di tangan Kiran.
                “hey, hey, hey siapa nih manis bener” kata cowok itu diikuti tatapan para pemain lainnya yang sedang  streching  di pinggir lapangan. Kiran yang merasa di liatin jadi salting dan hanya tersenyum kaku.
                “weh si Vijay, punya rejeki kagak  bagi-bagi” kata cowok sedikit pelontos sambil menepuk-nepuk bagian pantatnya dan berjalan ke arah Kiran.
                “Wili” kata cowok  itu mengulurkan  tangan kanannya, yang tadi EWWW.
                “Kiran” kata Kiran sambil mengulurkan  tangan kirinya, Wili jadi heran “gue kidal, ok gue ganti tangan aja” raut heran yang tadi tergambar di wajah  Wili menjadi wajah dengan mulut membunyikan huruf o, yang seperti ikan koi, Wili keliatan bego.
                Akhirnya Kiran bersalaman seperti orang yang sedang memiliki hajat yang otomatis memolorkan waktu permainan. Hari ini Vijay dan kawan-kawan hanya melakukan pertandingan pemanasan, katanya ,supaya enggak terlalu kaku waktu mau tanding sama SMA lain. Tak sempat punya waktu latihan yang intens, karena mereka akan disubukkan dengan tryout dan ujian ini itu
, maka setiap ada hari libur atau mereka pengen banget mereka bakal dateng ke lapangan futsal yang oke punya.
                Malam hari ini Kiran sudah berhasil melupan masalahnya dengan kekasihnya Evan brengsek!.  Kalo di pikir-pikir boleh juga anak-anak di klub futsal di SMAnya, cowok basket lewat deh, tahu gitu dari dulu dia nemenin Vijay latihan, daripada browsing menggunakan wifi sekolah yang berakhir ingin membeli barang-barang yang terpampang nyata di Online shops. Seperti sekarang Kiran sedang melihat sosmednya dan menjadi stalker di salah satu olshop langganannya.
                Terdengar suara napas terengah-engah dari dekat pintu  dan suara benda yang sengaja di jatuhkan di dekatku, suaranya kenceng banget, cowok itu  berambut spike dengan jaket kulit hitam dengan logo brand ternama di bagian dada jaket itu.
                “elo tuh Fan, gue kira enggak dateng, molor banget datengnya!” teriak Mario dari tengah lapangan, yah karena dia menjadi center di sini.
                “hehe tadi ada little problem di tempat kerjaan gue” katanya sambil melepas jaket lalu melempanya asal ke atas tasnya. Bau nya parfum mahal keluaran terbaru, khas cowok banget.  Selama melakukan pemanasan ringan Kiran memperhatikannya dengan lekat, Kiran udah mengunci matanya menatap cowok itu dan membuang kunci gemboknya jauh-jauh.
                “eh, ada cewek nih, cewek siapa nih?” teriak laki-laki itu sambil berteriak ke arah pemain yang tadi sudah melanjutkan permainannya, karena berhenti mereka memutuskan untuk istirahat sebentar.
                “ ceweknya si Vijay” celetuk Ronald, memang sih Vijay belum memberi tahu mereka semua kalo Kiran adeknya, Kiran juga enggak minat ngasih tahu kalo dia adik Vijay.
                “weh weh si Vijay suka sama cewek juga ternyata, hai gue Rafan Atmaja” kata Rafan sambil mengulurkan tangan kirinya, Kiran terkesiap dan memindahkan ponsel ke tangan kanan, lalu menjabat tangan kiri Rafan. Rafan juga kidal.
                “Kiran”  Rafan tersenyum dan dari matanya terlihat, Rafan memang orang yang sedikit urakan dan jenaka, dan matanya berwarna hitam pekat dengan alis sempurna untuk ukuran laki-laki, ralat nyaris sempurna, di dunia ini enggak ada yang sempurna kan?
                “woy woy!!! Salimannya udah woy!” tiba-tiba Ronald datang dengan muka jutek, sebenernya cemburu, sadar dengan hal itu Kiran melepas genggaman tangan lalu salah tingkah, emang enggak enak sih kalo  menjadi makhluk dengan komposisi x di dalam satu kelompok makhluk berkomposisi y. Tapi kalo emang lagi good lucky sih ya kayak Kiran begitu.
                “eh Fan, gantiin gue main cepet!” kata Vijay sambil mengurut kakinya, Rafan tersenyum dan mengacungkan kedua jempolnya ke atas. Sambil cengar-cengir Rafan menghada Kiran.
                “hay my girl, look my skils!” Rafan mengedipkan mata ke arah Kiran yang belum ngeh, tiba-tiba aja Vijay udah duduk di sebelahnya, tetep ngurut kakinya.
                “lo mau belajar jadi tukang urut?” tanya Kiran sambil menyelidik kaki Vijay yang udah telanjang. Tanpa sepatu dan kaus kaki maksudnya.
                “enggak  tuh,  jangan sotoy deh” kata Vijay sambil menoyor adeknya itu Kiran langsung merapikan rambutnya.
                “terus ngapain elo  pake ngurut kaki lo?”  Vijay meringis dan menyandarkan punggung ke sandaran bangku semen.
                “kram,  tadi  gue lupa pemanasan hehe” Kiran mendengus kesal dan ikut menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
                “Ran, menurut lo Rafan gimana, waktu lo  pertama kali ngeliat dia?” kata Vijay mantab sambil melihat adiknya itu.
                “hm, gue enggak tahu tapi dia punya mata yang bener-bener gelap, gue suka itu” kata Kiran sambil menatap Rafan yang sedang menggiring bola ke gawang Andi’ dan di akhiri dengan satu poin.
                “YEY!!!” teriak Kiran kegirangan sampai sampai semua anak menengok kearahnya dan cekikikan sendiri, Vijay yang dari tadi menahan tawa akhirnya meledak juga, Kiran yang di  perlakukan seperti  itu jelas maluuuu.
                “hehe sorry ganggu konsentrasi nih, sok di lanjut kan” tanya Kiran sambil duduk sok jaim. Vijay geli melihat adiknya tadi, sepertinya Rafan tertarik dengan Kiran, harus gue bantu nih, kata Vijay dalam  hati. Di perhatikan tingkah adiknya  tersebut, dia sangat serius memperhatikan gerakan Rafan, Vijay tersenyum lagi.
                Kiran yang dari tadi merasa kakaknya senyum-senyum sendiri merasa emang bener kakaknya  gila, ASTAGA.
                “kayak orang gila aja lo senyum-senyum  sendiri?” kata Kiran heran.
                “enggak kok, gue lagi memikirkan rencana yang sangat lucu aja” kata Vijay, “Goshhh, Tuhan ampunilah kakak saya yang udah rada miring” Kiran langsung mengusap wajahnya dengan kedua tangannya bersamaan.
                “eh, lo enggak usah urusin gue deh, sana balik ngeliattin skillnya anak-anak tim gue, jempolah kan, apalagi yang ehem... itu lhoo”
                 Kiran menyerngit bingung dan beberapa menit kemudian di berubah garang, daripada ribut-ribut mending fokus ngeliatin permainannya anak futsal. Masih terdengar suara cekikikan Vijay , dasar rese!.
                Emang dari tadi mata Kiran memperhatikan si kulit bundal bergelinding di rebutkan orang banyak, bagus bener skill si Rafan.
                “my girl i’ve good skills rite? Yeah i’ve” kata Rafan pede saat selesai berlatih dan langsung aja  di sorakin anak-anak lain termasuk Vijay, Kiran hanya tersipu malu.
                “apaan pake  my girl, punyanya si Vijay juga” celetuk Ronald jengkel, Rafan hanya menjulurkan lidahnya, seperti anak kecil.
                “ye sekarang gue panggil Kiran My Girl” kata Rafan pd, “sok deket banget lo” kata Vijay geli, Rafan terkekeh geli sedangkan Kiran hanya tertawa geli.
                “rumah lo dimana, mungkin kalo  gue kangen bisa langsung kesana, tapi lo jangan bilang Vijay kalo gue main ke rumah lo, entar bisa abis gue, ok my girl” kata Rafan sambil  melirik Vijay yang geleng-geleng kepala.
                “tanpa  gue bilang si Vijay pasti udah pasti tahu, elo ngomongnya kayak speaker begitu” kata Kiran geli, Rafan tertawa . “btw gue tinggal serumah sama si Vijay” Rafa langsung berhenti tertawa.
                “e..  elo serumah bareng dia, goshhh” kata Wili dengan muka kaget, untuk saat ini Vijay belum memberi tahu mereka kalau mereka kakak adik, biar surprise katanya.
                “gue sama Kiran sering sekamar malahan, keren kan gue” terdengar suara menarik nafas dari semua orang di dalam ruangan tersebut , “tapi itu dulu waktu gue sama Kiran masih kecil, ya wajar lah kalo  si Kiran tinggal serumah sama gue, dia kan sodara gue” kata Vijay dan langsung di timpukin sama anak-anak, Kiran hanya terkekeh geli.
                “sialan lo Jay!”
                “tahu gitu kan gue embat aja si Kiran”
                “ah elo, gue kira elo berbuat yang melanggar agama Jay!”
                Begitulah kira-kira umpatan yang di terima Vijay.
                “heh udah-udah kasihan kakak ipar gue,  jangan di timpukkin begitu dong” kata Rafan sambil berdiri di depan Vijay , seperti perisai. Tak berapa lama terdengar suara HUUU!!! Dari semua orang.
                “Ngarep banget si Fan, Fan” kata Markus heran .
                Setelah 3 jam berlalu Kiran dan Vijay memutuskan pulang terlebih dahulu karena sudah larut malam, saat tiba di Parkiran terlihat sosok Rafan berlari menghampiri Kiran.
                “My Girl,  kasih nomor lo!” katanya sambil terengah-engah, Kiran tersenyum dan menulis nomornya di ponsel Rafan yang dilihat-lihat sama seperti ponselnya. Vijay yang memperhatikan hal tersebut tersenyum kecil. Di sekolah Kiran termasuk cewek yang susah banget di minta nomor telponnya, hanya orang-orang tertentu yang punya nomornya, emang kedengeran belagu, tapi “gue butuh privasi untuk nomor telepon gue” katanya.
                Vijay berpikir suatu saat nanti mereka akan jadian, tapi hubungan mereka enggak akan mulus, banyak rintangan yang menghadang. Vijay hanya berdoa semoga saja Kiran bisa jadian sama sohibnya itu. Rafan Atmaja.
                Jadi misi pertama berhasil! Sorak Vijay dalam hati, hal itu terlihat jelas saat mereka tiba di rumah, Vijay mengikuti Kiran yang memasukki kamar dengar wajah sumringah dan senyum-senyum sendiri.


TBC-

hai sorry kalo postingannya telat plus gaje, ini berusaha keras buat ngebuat part 2 T-T
yuk jangan lupa komennya ya, di tunggu
annisya berlianti II
@annisyab_
saran dan kritik di terima dengan terbuka aye :)  

Senin, 24 Maret 2014

Kiran's True Love

Kiran’s True Love
By : annisyabubbles
Part 1

“don't you ever think, can you trust On a liar?
 if you don't,  its feel so hurting your heart!”
-Kiran
               
                “Kiran entar malem lo ada acara?” tanya cewek dengan bando putih muncul dari arah belakang yang mengagettankan sohibnya yang sedang asyik duduk di bawah pohon besar di samping halaman sekolah yang sedikit rame, semburat senyum langsung membentuk lesung pipit di wajah gadis belia bernama Kiran.
                “Evan ngajak gue hang-out dia udah janji enggak akan kayak kemaren-kemaren” jelas Kiran bersemangat.
                Desahan kecewa terdengar dari gadis berbando putih di tengkuk kepala, semoga aja si Evan enggak bohong lagi  Ran!, ucapnya dari dalam hati. “oh yaudah kalo gitu gue sama Aron muter-muter Jakarta aja,sebenernya gue mau ngajak elo, tapi you’ve a date” jawab Kanya lesu, perempuan berbando putih tadi.
                “elo kenapa Kan?” Kiran langsung duduk di bangku semen dan menghadap Kanya, wajahnya benar-benar lesu, kegembiraan yang tadi semangat banget ngajak Karin satnight together hilang blas.
                “nothing, yaudah gue cabut dulu mau nyari Aron, tuh bocah sering centil ke anak basket yang lagi latihan bye baby, enjoy your satnight” Kanya tersenyum dan berjalan ke lapangan basket yang letaknya di belakang sekolah.
                Kiran memandang kakinya dan menikmati hembusan angin musim gugur di bawah rindangnya pohon. Kiran sebenarnya sempat ragu dengan janji manis pacarnya, Evan.  Cowok beken di sekolah , cowok yang keren banget, cowok yang di puji-puji sama kaum hawa di sekolahannya, dan cowok yang dulu ngebuat Karin fall in love. Evan nembak Kiran waktu pulang nonton film, tepatnya waktu dinner sebulan lebih seminggu yang lalu, cuman ada bunga mawar, restoran romantis dan lagu-lagu klasik yang lumayan terkenal.
                Sekolah masih lumayan rame buat ukuran hari Sabtu, beberapa eksul udah pada mulai latihan dan sekarang anak-anak paskib ngebuat formasi apalah itu namanya, tapi Kiran menikmati itu dengan damai, sejuk dan sepi... suasana itu berlangsung sampai sepasang telapak tangan besar menutup kedua matanya.
                “who’s?” Kiran menyeringai  geli dan meraba tangan itu.
                “ofcourse your handsome prince, princess”
                Evan. Tangan-tangan itu langsung lepas bersamaan dengan Evan duduk di sebelah Kiran dan tangan kanannya merangkul pundak ceweknya itu di usapnya lembut lengan cewek mungil itu.
                “kamu udah lama nunggu?” tanya Evan mengawali percakapan itu, Kiran hanya mengangguk dan melihat sekeliling, hanya Evan? tumben banget kemana tuh anak buahnya. Gumam Kiran dalam hati.
                Emang sih, si Evan kalo di mana-mana enggak pernah sendiri pasti ada anak genknya yang setia mengekor yang rata-rata berstyle cool dan ehem... highclass. Banyak anak-anak di sekolahan itu mencap dia playboy gara-gara sering gonta-ganti pacar dan mencapakkan perempuan. Tapi ya itu di balik kekurangan pasti ada kelebihan, walaupun dia playboy banyak juga yang mengagumi Evan adn the genk.
                “ngeliatin apa sih Hun?” tanya Evan lembut
                “enggak kok, kamu habis darimana Van? Kok tumben sendirian?” Evan langsung grogi dan salting, sebelum Kiran menyadari sikapnya ini Evan hanya tersenyum tipis dan menjawab
                 “tadi ada yang tanya-tanya tentang eksul Voli yaudah kan aku tahu sedikit tentang Voli aku jelasin aja dulu”
                “oh gitu...”  Evan mendesah lega. Kiran yang mendengar itu mulai aneh, dia bangkit dari pelukan Evan dan duduk menghadap sang pacar dengan heran. Evan yang sadar dengan sikap sang pacar itu langsung mencari cara utnuk mengalihkan topik pembicaraan.
                 “Nanti malem kita jadikan?” tanya Evan dengan sikap biasa aja, padahal Evan takut kalo Kiran nanya macem-macem dan berhasil, muka Kiran langsung seneng banget, perasaan 
                “jadi dongg kan jarang banget aku jalan sama kamu” Evan langsung menggenggam tangan Kiran dengan sayang dan erat, seakan-akan dirinya tidak akan meninggalkan gadis mungil itu. Tapi terkesan dangdut banget di mata Kanya dan Aron, kedua cewek yang dari tadi memperhatikan kejadian itu dari tempat yang memungkinkan agar Kiran dan Evan tidak melihat mereka.
                Kanya sempat melihat Evan yang berdiri di depan ruangan sekertariat eksul basket, entah menunggu siapa tapi  penampilannya berbeda, lebih rapi dan mata Kanya melihat setangkai mawar merah di  tangan kanan Evan.
                “lo yakin Kan, si  Evan tadi  bawa mawar?” tanya Aron tidak yakin, dari penyelidikannya belum ada tanda-tanda mawar merah  ditangan Evan.
                “yakin seyakin-yakkinnya Ron, gue liat JELAS BANGET” kata Kanya yakin sambil menekan kata JELAS BANGET.
                “tapi dari tadi  gue enggak liat ada mawar merah,  tapi seriusan lo enggak liat?” Kanya mengangguk cepat-cepat dan menatap Aron Casandra yakin, seyakin saat dia melihat mawar itu! Tak berapa lama...
                “AAAA!!!”
                Aron dan Kanya menjerit bersamaan saat bahu mereka di pegang sepasang tangan asing, mungkin aja Kiran dan Evan melihat mereka mengintip di tempat yang tak terduga oleh mereka  saat mereka berbicara tadi, dan mengendap kemari untuk memergoki mereka yang ketahuan menguping, eh memata-matai. Tapi dugaan itu patah.
                “lo pada mau pulang apa enggak?” tanya suara besar dari belakang, Steve, pacarnya Aron, bukan Evan maupun Kiran.
                 “HUFTT...” desahan lega terdengar dari Aron dan Kanya.
                “iya nih sorry ngebuat kalian berdua nunggu tadi ada problem waktu kita latihan bola” kata cowok yang masih berpakaian basket, Brandon, pacar Kanya. “yaudah yuk!” Aron berjalan duluan dan di susul Steve.
                 Kanya masih celingukan bingung, dia masih penasaran sama Mawar merah yang tadi  di lihatnya. Brandon memperhatikan tingkah Kanya yang aneh itu, matanya menatap ke objek yang dilihat Kanya, hanya tumbuhan yang di tata menyerupai pagar.
                “kenapa Kanya?”  Kanya tersentak kaget dan menggeleng cepet.
                 “enggak kok enggak  papa yaudah yuk” Kanya langsung menarik tangan Brandon yang berjalan kembali, Brandon juga.
                “if you’ve problems tell with me, maybe i can help you” kata Brandon dengan dingin.
                Kanya mengangguk dan menggandeng tangan cowok itu dan menyusul Aron dan Steven.
                “Kiran di cari mama !” Kiran langsung menghentikan aktifitasnya , mantengin timeline twitter, saat Kakaknya Vijay memanggil dan berjalan ke bawah, saat turun dari tangga dia melihat mamanya sedang berada di ruang tengah, membaca majalah dengan tv yang menyala tanpa ada yang menonton.
                “ada apa ma?” Kiran langsung duduk di sofa yang kecil dekat dengan mamanya. Wanita berumur 35-an itu mengangkat wajahnya dan tersenyum hangat penuh arti.
                “nanti malem kamu ada acara?”
                “ada, Evan ngajak Kiran jalan” jelas Kiran bersemangat, jelas banget si Kiran seneng malming di ajak pacarnya yang guantenggg begitu, but we can see until he ...
                Tiba-tiba aja telpon rumah Kiran berdering , Kiran beranjak dari duduknya dan berjalan ke meja kayu dan meraih gagang telpon, perasaannya jadi tidak enak.
                “halo?” mukanya Kiran jadi tegang dan nightmarenya datang, EVAN BATALIN JANJI LAGI! Teriak Kiran dalam hati.( note : bacanya yang huruf besar DITEKAN everybody)
                 “duh sayang, aku minta maaf banget, bonyok mendadak banget ngabarinnya, aku enggak enak kalo mau nolak” jelas Evan dengan nada merasa bersalah.
                “oh gitu, ok enggak papa kok, besok-besok kalo mau batalin enggak usah pake ngerayu dulu kayak tadi di sekolah ok bye!”
                “Kiran... tapi Kiran” belum sempat Evan menyelesaikan pembicaraan itu,
                BRAK!
                Kiran membanting  gagang telpon keras-keras-keras (bacanya di teken,biara greget) mama yang tadi melanjutkan membaca majalah kaget.
                “ada apa Ran?” tanya mama sambil menghampiri Kiran yang mukanya udah kecut banget banget banget. Seakan tahu anak bungsunya itu mama menghela napas dan mengelus rambut putrinya lembut, mama Kiran sudah tahu kelakuan pacar putrinya itu, setelah menenangkan putrinya, mama masuk ke kamar dan meninggalkan Kiran yang lagi bete di ruang tengah.
                Sialan! Kenapa dia ngebuat gue kecewa terus?!!! ARGHHH!, kata Kiran dongkol.
                Kiran paling enggak suka di bohongin, paling enggak suka banget-banget-bangettttt. Selama pacaran sama Evan,Kiran enggak pernah ngecewaiin dia malah sebaliknya, udah lebih dari sepuluh kali semenjak satu  bulan yang mereka jadian, Evan ngecewaiin dia terus.
                Kiran lebih banyak berkorban disini, mulai dari antar jemput Evan ke tempat yang dia mau, dimana-mana tuh cewek yang dianter jemput sama cowoknya, ini malah kebalik.  Kiran juga sering ngalah sama Evan.
                 Kanya sama Aron pernah menyuruh Kiran putus sama Evan, saking geregetan sama keluhan Kiran yang suka ngamuk gara-gara itu. Belum jadi apa-apa aja si Kiran udah kayak pembokatnya si Evan, cuman romantis di depan anak-anak, ceritanya tebar pesona gitu.
                “udah deh Ran, lo putus aja deh sama si Evan, dia tuh baik cuman di depan orang-orang doang, masa elo enggak ngerasaaiin sih?” kata Kanya Gemas.
                “iya bener banget tuh !, kalo di depan orang-orang si Evan romantis banget, mungkin lo kepincut sama tuh brengsek, eh maksud gue Evan waktu dia di depan orang gitu ya” kata Aron ikut ngomporin Kiran yang lagi bete banget waktu Evan janji buat dinner di Kafe daerah deket sekolah mereka, alasannya Perutnya mendadak sakit. But bullshit, ada saksi mata yang sangat di percaya melihat Evan lagi di komplek perumahan mewah sama cewek-cewek, Kiran enggak percaya sama itu, hal ini ngebuat Aron sama Kanya jadi DONGKOL.
                Semakin kesini rasa curiga muncul di hati Kiran, sempat terbesit di  otak Kiran bahwa dirinya sedang dipermainkan, dan Kiran mulai percaya. Emang dasarnya cinta, waktu Evan ngasih alasan ini itu, si Kiran tetep aja percaya. But itu dulu, sekali lagi ketahuan Evan bohong Kiran akan nyelidikin sendiri. Kiran langsung naik ke kamarnya, pengin jalan sama kedua sohibnya, tapi Kiran jadi  obat nyamuk, mereka pasti sibuk  sama pasangannnya, Steve sama Aron dan Kanya sama Brandon.
                Yaudah deh di rumah lagi !
                Gumam Kiran badmood. Kiran langsung rebahan di kasur dan tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, Vijay.
                “kenapa lo?” tanya Vijay yang langsung berdiri dengan sandaran di tembok dekat pintu sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Kiran langsung duduk malas di atas ranjang.
                “biasa” jawabnya males malessan. Vijay tersenyum tipis dan berjalan mendekat ranjang dan duduk di pinggir rangjang.
                “gini entar lo enggak ada acara kan?” Kiran mengangguk malas, “mending lo ikut gue, pasti seru, nemenin gue futsal” kata Vijay bersemangat. Kiran berpikir sejenak, daripada jadi obat nyamuk mending ikut Vijay, tapi di sana enggak ada ceweknya. “disana ada makhluk segender sama gue enggak?” Vijay berpikir sejenak sebelum menjawab.
                “ehmm... ada ibu-ibu yang jual minum dikantin sana” Kiran meloto dan mencubitti lengan Vijay gemas, Vijay hanya tertawa kecil dan berusaha menghindar dari cubittan adeknya itu.
                 “Aw aw... udah udah” Kiran langsung berhenti dan mendengus kesal  “elo aneh deh, ya di sana cuman laki semua lhaa, rata-rata jomblo di sana makanya kami-kamu menghabiskan waktu dengan berolahraga”  kata Vijay kayak lagi promosi kaumnya.
                Emang sih Vijay masih jomblo, enggak kayak adeknya, katanya “gue enggak mau terikat suatu hubungan sama cewek dulu, gue masih pengen bebas kayak sekarang.” Walaupun masih jomblo kayak begitu cewek yang ngantre banyak bangetssss.
                “WOY!!! Gimana ikut aja deh, entar lo gue kenalin sama temen-temen gue, cakep cakep” kata Vijay jail. Lumayan kan cuci mata dulu, gumam Kiran dalam  hari dan mengangguk setuju.
                “nah gitu dong, entar jam 6 siap, habis maghrib berangkat, naik motor gue”
                “serah, awas kalo enggak seru! Gue suruh traktir kopi baru nyahok lo!” Vijay hanya menaikkan sebelah alis mata dan tersenyum jenaka.
                Kiran udah enggak uring-uringan lagi, dirinya jadi tenang, Kiran jadi enggak sabar waktu Vijay futsal, Vijay emang suka banget sama bola sepak, terutama futsal. Football club favoritnya grup Catalan. Kiran yang sedikit suka sepak bola juga suka Barcelona.
                Kata Vijay Kiran mau di kenalin sama temen-temennya Evan soooo, Kiran mau dandan yang kece, yang cantik, yang simple but fashionable. Boleh dong tebar pesona sama cowok lain, Evan juga sering tebar pesona sama cewek lain masa’ gue enggak boleh, kata Kiran bangga dan berjalan ke kamar mandi.
                Dikamarnya, Vijay tersenyum puas, Kiran berhasil dia ajak ke tempat futsalnya, daripada melihat Kiran itu uring-uringan seharian gara-gara Evan brengsek ,mending ngenalin sama temen-temen gue. Gumam Vijay puas.
                 Vijay mengetahui sesuatu tentang Evan yang belum mau di kasih tahu ke Kiran. Vijay belum siap melihat adiknya yang seperti batu karang, rubuh karena cowok berengsek macam Evan. Vijay langsung beranjak dari rebahannya dan menyiapkan alat-alat untuk futsal, lapangan sudah di pesan Andrew, sohibnya, lapangan VVIP yang cozy banget, Semoga rencana gue berhasil, Amien!.

                To Be Continue.
Wah emang si Vijay mau ngerencanaiin apa sih? Gue  juga enggak tahu, makanya tetep update di blog gue, insyaAllah gue buat cerita yang bagus bagus, or if you want comments  and asking someting add my socmed, for facebook Annisya Berlianti II
Twitter @annisyab_

Thanks guys,  i need you all J